Hakikat Manusia.

Sebutan Manusia dalam AlQuran.
Manusia disebut dalam AlQuran dengan berbagai sebutan, yang menunjukan kemulti dimensian manusia.

1. Al-Insan.
sebutan ini menunjuk karakter manusia yang sering berbuat salah, lemah, dan berbagai kekurangan lainnya.
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,(alMaarij:19-21)
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.(AnNissa:28)
2. An-Naas.
yang menunjuk pada karakter rabbaniyah atau uluhiyah, yakni makhluk yang menyembah pada penciptanya.
Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.(AnNaas:1-6)
3. Al-Basyar.
menunjuk manusia sebagai makhluk Biologis yang membutuhkan makan, minum, berusaha, dan sebagainya.
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (AlKahfi:110)
4. Bani Adam.
menunjuk pada ketinggian kedudukan manusia diatas makhluk Allah lainnya.
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (AlIsra:70)

Hakikat dan Potensi Manusia.

AlQuran mendeskripsikan manusia dengan perspektif yang menyeluruh. hal ini menunjukan bahwa untuk mendeskripsikan dan memahami manusia tidak cukup dari satu aspek, namun mesti dilihat secara komperhensif.
Manusia adalah makhluk Allah yang disusun dari ruh dan tanah dan dilengkapi denag potensi hati, akal, dan jasad (alhijr: 28-30, AnNahl:78). denga potensi itulah manusia dilebihkan dari makhluk yang lain. kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan untuk menjalankan amanah ibadah
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. AdzDzariyat:56).
dan menjalankan fungsi khalifah
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. AlBaqarah:30)
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud:61).
peranan dan tugas yang dilakukan ini akanmendapatkan balasan yang sesuai.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah:7-8)
Pendayagunaan potensi manusia.
Apabila manusia menyadarai akan kelebihan yang dikaruniakan Allah kepadanya, tentu manusia akan mendayagunakan potensinya lebih produktif dari tanaman, bertingkah laku lebih dibanding hewan, dan mensucikan jiwanya sebagaimana malaikat, karena potansi yang demikian mulia dan tinggi disadari sebagai nikmat Allah, yang semestinya digunakan untuk bersyukur pada Allah, denga taat dan tunduk terhadap segala aturanNya dan meninggalkan segala laranganNya.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
dalam rangka bersyukur kepada Allah, maka potensi yang Allah karuniakan pada manusia hendaknya didayagunakan seoptimal mungkin, sehingga tidak menganggur (idle), yang menjerumuskan diri manusia kedalam kekufuran dan adzab yang pedih. pendayagunaan potensi manusia secara tepat merupakan suatu hal yang dituntut, karena ia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Al-Isra:36)
Hati hendaknya didayagunakan untuk menghasilkan motivasi dan niat yang baik (ikhlasun niyah) dalam segala aspek kehidupan. hati pun hendaknya didayagunakan dalam rangka membangun keinginan-keinginan manusia yang kuat (al Azmu al Aniid), sehingga manusia hidup mempunyai cita-cita, obsesi, tujuan , visi yang bersih dengan senantiasa melakukan pembersiahan hati dan mengingat Allah. dengan dzikrullah hati menjadi tenteram, kuat dan teguh.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ArRaad:28).
dengan tazkiyatu nafs (pembersihan hati), hati menjadi bersih, tumbuh, dan berkembang untuk meraih kemenangan.
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (Asy-Syams:9)
posisi hati dalm hidup manusia sangatlah sentral, karena dalam hati terletak motivasi, didalam hati pula terletak potensi taqwa dan kejahatan. Beruntung orang yang mendayagunakannya dengan Tazkiyatun Nafs dan merugilah orang yang mengotorinya dengan kedurhakaan. Rasulullah SAW bersabda: “… ingatlah bahwa dalam jasad (tubuh seorang itu) ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya dan jika rusak maka rusaklah jasad seluruhnya. ingatlah ia adalah HATI” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akal hendaknya didayagunakan dalam rangka memperoleh ilmu Allah baik yang termaktub dalam kitabnya (qauliyah) maupun dalam ayat-ayatNya yang terbentang luas dialam ciptaanNya (kauniyah). Tak disangsikan lagi bahwa kehebatan manusia adalah terletak pada penggunaan akalnya. dengan penggunaan akal tersebut manusia meraih kemajuan-kemajuan yang luar biasa. kemajuan ilmu dan teknologi, kemajuan komunikasi dan informasi telah banyak merubah tatanan kehidupan manusia secara global. dengan ilmu manusia mendapatkan rahasia nikmat Allah yang tersimpan dalam ciptaanNya. Allah SWT mengangkat derajat kehidupan orang yang berilmu pengetahuan lebih baik dari orang yang tidak berilmu pengetahuan.
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-mujadilah:11)
ilmu hendaknya dijadiakn landasan dalam beramal, sebab tanpa ilmu amal manusia menjadi sia-sia. tanpa ilmu, amal manusia menjadi tidak terencana, tidak terkendali, tidak terfokus, dan tidak tercapai tujuan dengan tepat.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Al-Isra:36)
Pada akhirnya ilmu hendaknya menjadi sarana bagi manusia untuk lebih dekat dan takut kepada Allah SWT.
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir:28).


Wassalamualaikum,wr,wb.