Manusia Dalam AlQuran

Pengenalan terhadap manusia sering dilakukan dengan menggunakan akal. Padahal akal merupakan bagian kecil dari komponen yang ada didalam manusia itu sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk mengenali dirinya sendiri apalagi mengenal manusia secara keseluruhan. kemampuan akal manusiapun sangat terbatas, tidak mampu menembus batas ruang dan waktu yang tak terbatas. tidak mengherankan jika para pakar mempunyai teori dan definisinya sendiri-sendiri. berbagai dsiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, filsafat, dan teologi mempunyai berbagai pendekatan dan teori yang berlainan tentang manusia. Pakar ekonomi mengatakan manusia adalah makhluk ekonomi (homo economicus), pakar sosial mengatakan manusia adalah makhluk sosial (homo socious), pakar psikologi mengatkan manusia adalah makhluk yang membutuhkan rasa aman, dan lain sebagainya. Pengenalan manusia dengan akal, karenanya sering menimbulkan kekaburan, bahkan dapat menyeret pada kesesatan, karena memandang manusia dari satu aspek saja, bahkan tak memberikan jawaban yang jelas tentang asal kejadian manusia. disamping itu, faktor kesombongan dan merasa diri paling hebat dan paling pandai menghalangi manusia untuk mencapai kebenaran yang hakiki.

Asal kejadian dan proses kejadian manusia.

Manusia tidak mampu memberikan jawaban tentang penciptaan dirinya. karena ia makhluk ciptaan bukan yang menciptakan. bahkan manusia sendiri lahir di dunia tidaklah membawa ilmu (pengetahuan) sedikitpun.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (AnNahl:78)
Karenanya, untuk mengenal dirinya, asal kejadiannya, kedudukannya, serta misi kehidupannya, hendaklah ia mengenal dari penciptanya, yakni Allah SWT, Pencipta alam semesta. Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (AlHijr:86)
Al-Quranul Karim telah memberitakan informasi yang akurat tentang manusia, sebagai makhluk ciptaan Allah yang tersusun dari ruh dan tanah, kemudian dilengkapinya dengan potensi akal, hati, dan jasad, yang merupakan suatu kelebihan yang Allah berikan dibanding makhluk lainnya. Dengan segala kelebihan tersebut, manusia diberikan tugas untuk menjalankan amanah iabadah dan khalifah. Dan sebagai ciri dari makhluk yang dimuliakan, manusia diberikan beban dan balasan.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. (AlHijr: 28-30)
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(AsSajdah:7-9)
Al-quran memperkenalkan manusia dengan pengenalan yang paling mendasar, yaitu kejadian manusia, dimana manusia bukan saja dari tanah tapi dilengkapi dengan ruh ciptaan Allah, yang dengan ruh itu manusia hidup, karenanya kehidupan manusia bukan saja aspek fisik dan biologis saja, namun haruslah mencakup aspek ruh dan spiritual. dimana baik aspek fisik maupun ruhani manusia hendaknya ditundukan kepada penciptanya, dengan mentaati aturanNya
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (AlImran:83)
Alquran pun memperkenalkan manusia, ternyata tidak terbats pada substansi (materi) penyusunnya saja, melainkan juga pada aspek proses kejadian manusia.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.(AlMuminun:12-14)
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?(AzZumar:6)
Ungkapan Alquran tentang proses kejadian manusia, begitu jelas dan sangat runut, yang sampai saat ini, tak satupun pakar ilmu kedokteran atau pakar lainnya yang membantahnya. Justru sebaliknya ayat-ayat Alquran menjadi sumber kejadian manusia dan penelitian berbagai bidang ilmu pengetahuan. berkaitan dengan prose kejadian manusia ini dikembangkan embriologi, yang sekarang berkembang sangat pesat. Tiga kegelapan dalam proses kejadian manusia yang diungkapkan AlQuran telah difahami oleh pakar embriologi sebagai kegelapan perut (chorion), kegelapan rahim (amnion) dan kegelapan dinding uterus (alntheis, selaput yang melindungi bayi). Alquran selayaknya menjadi sumber rujukan dalam pengkajian dan pengembangan ilmu, teknologi dan peradaban, karena ia bukan perkataan-perkataan manusia, melainkan firman pencipta manusia, yang maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata. dan selayaknya pula bahwa pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban tidak meleset dari AlQuranul Karim.