Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • syahbal 8:44 pm on April 6, 2009 Permalink | Balas
    Tags: abdullahsyahbal.web.id, blog, blog baru, terbaru   

    Pindahan 

    Assalamualaikum,wr,wb…

    cuman mau kasih info kalu saya pindahan ke Blog yang baru…

    alamatnya,,,

    http://www.abdullahsyahbal.web.id

    jadi yang comment di sini mungkin tidak akan dibalas…

    insya Allah di tempat baru akan aktif…

    Trima Kasih..

    Wassalam…

     
  • syahbal 2:33 pm on August 31, 2008 Permalink | Balas
    Tags: , ali bin abi thalib, ali bin abi tholib, Allah, Allah SWT, berserah, do'a Kumayl, , imam, , Kumayl, Kumayl bin ziyad, , Muhammad SAW, tawakal   

    Do’a Kumayl…(1) 

    DOA KUMAYL

    “Allah Membenci Permintaan Manusia Kepada Orang Lain Dengan Cara Memaksa Dan Dia Mencintai Hal Itu Untuk DiriNya”

    BISMILLAHIROHMANIROHIM

    Ya Allah, aku bermohon padaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu
    Dengan kekuatanMu yang dengannya Engkau taklukan segala sesuatu
    Dan yang dengannya merunduk segala sesuatu
    Dan yang dengannya merendah segala sesuatu
    Dan dengan keagunganMu yang mengalahkan segala sesuatu
    Dan dengan kemuliaanMu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu
    Dan dengan kebesaranMu yang memenuhi segala sesuatu
    Dan dengan kekuasaanMu yang mengatasi segala sesuatu
    Dan dengan wajahMu yang kekal setelah fana segala sesuatu
    Dan dengan asmaMu yang memenuhi tonggak segala sesuatu
    Dan dengan IlmuMu yang mencakup segala sesuatu
    Dan dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala sesuatu (More …)

     
    • nurma 8:51 pm on Agustus 31, 2008 Permalink | Balas

      aaamin, yaa Robb al amin.

      sudah balik dek? istirahatnya lama juga ya??
      met menunaikan ibadah puasa ^-^ smoga taon ini bisa lebih baik dari taon2 kemaren.

    • nh18 12:25 pm on September 1, 2008 Permalink | Balas

      (OOT)
      Bal …
      Baru nongol lagi nih ..
      kemana aja ?

      sibuk “nomer 1″ ?

    • syahbal 3:04 pm on September 2, 2008 Permalink | Balas

      @Mba Nurma
      iya neh baru nongol lagi… sebenernya ga istirahat… cuma ga ada ide nulis…

      @mba nh18
      ada aja mba… eh salah mas…heheheheh…

    • denish maehndaz 10:29 pm on Oktober 15, 2008 Permalink | Balas

      ass….mampir nehh….!!!!!!!makasih ya udah referensiin blog saya..!!!!!dari denish mahendaz..!!!lam kenal ya..!! aq tunggu mampir lagi…!!!!!

    • yanti/mama aini 10:06 am on Februari 3, 2009 Permalink | Balas

      Tiada yang lebih.. apapun selain DIA.. Subhanallah

    • feiya... 10:08 am on Januari 18, 2010 Permalink | Balas

      DIA lah maha segalanya……..

  • syahbal 7:43 pm on April 30, 2008 Permalink | Balas
    Tags: , ahmadiya, ahmadiyah, ahmadiyya, , ikhsan, , , , religius, ,   

    noda… 

    Assalamualaikum,wr,wb…

    ga ada noda ga belajar… itu kata sebuah iklan di tipi….

    lalu kenapa belajar harus ada noda???

    hmm…

    mungkin dengan ada noda itu bisa terlihat bagian mana yang tidak kena noda…ya mungkin…

    mungkin Islam sekarang ada dalam keadaan seperti itu..

    banyak sekte yang mengaku islam,,, tapi kalau saya lihat merek itu adalah noda dalam sebuah baju bermerek Islam…

    mereka tidak menyadari kalau mereka sudah menodai sesuatu yang suci…

    dengan berbagai cara mereka telah memperbesar noda mereka…

    dengan mengangkat nabi baru misalnya…

    atau suatu ajaran yang baru…

    ya…ya..ya…

    noda memang ada setelah baju itu ada…

    jadi gimana cara membersihkannya???

    bersihkan dengan sabun Iman…

    beli dimana???

    beli di toko Islam…

    harganya???

    wah…itu seh tergantung orangnya… bisa gratis bisa juga mahal…

    ah POKOKNYA manusia itu harus beriman…

    itu aja mungkin yang mau ditulis disini…

    maaf lagi ga ada bahan tulisan….

    hehehehehehehehehehehehe…

    Wassalam

     
    • daeng fattah 2:21 pm on Mei 3, 2008 Permalink | Balas

      Bagaiamana kalau saudara mewawancara anggota2 dari sekte tersebut baru menyatakan itu noda. Bisa jadi keyakinan saudara adalah noda di mata mereka.

    • danalingga 7:47 pm on Mei 3, 2008 Permalink | Balas

      Bajunya kotor bal? Buang aja.

      *berlalu*

    • daengfattah 12:28 pm on Mei 5, 2008 Permalink | Balas

      Celananya kotor bal? Buang aja.

      *ML*

    • nh18 2:11 pm on Mei 7, 2008 Permalink | Balas

      Hehhe ..
      Ide bisa datang dari mana-mana ya Bal …

      Salam saya

    • gagah77 6:12 pm on Mei 11, 2008 Permalink | Balas

      Menurut gw, justru yang lebih rendah hidupnya adalah orang yang suka menzolimi orang lain dengan alasan agama. Merasa paling pintar dan paling suci dari orang lain. Bahkan saat ini di negara ini justru telah menjadi trend kalau bisa menghakimi orang yang tidak sepaham dengan dirinya, itu adalah suatu kebanggaan.

    • Andrey Rachfriwijaya 5:25 am on Mei 17, 2008 Permalink | Balas

      Kemana aja lo Dul ? sibuk apaan aja lo ????

    • Menik 11:00 pm on Juli 2, 2008 Permalink | Balas

      ga ada ide ajah bisa ngalir kaya gini .. :)

      Maaf Bal.. sayanya baru mampir lagi :)

      ayo di updet :)

    • yanti 4:35 pm on Juli 13, 2008 Permalink | Balas

      Noda ada yang mudah dibersihkan, ada yang sulit.. bahkan tidak mau hilang… niatan untuk be-bersih adalah yang utama…

      Hmm ini tulisan bagus yah….

    • fauzan 1:12 am on Agustus 4, 2008 Permalink | Balas

      dolkempit

    • Setiaji 11:59 pm on Agustus 14, 2008 Permalink | Balas

      kalo yg aliran/sekte aneh2x .. gak usah bawa2x islam kali yah, proklamirkan aja agama baru, biar jelas gitu.

    • hanggadamai 5:24 pm on Agustus 17, 2008 Permalink | Balas

      halo wah empunya blog kemana ya?? kok lama g diapdet??
      padahal mau numpang iklan nih..
      Saatnya Blogger Bogor Bergerak

  • syahbal 9:43 pm on April 12, 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , grandma, innalillahi, kangen, keluarga, mahabah, mencintai, , mutiara, nenek, orang tua, paling, ramadahn, ramadhan, rindu, sayang, subhanalla, subhanallah, , wafat, yang dicintai   

    My Grandma… 

    Assalamualaikum,wr,wb..

    setalah membaca postingannya mas landy tentang itsar… maka tiba-tiba saja dirku teringat akan nenek ku tercinta.. makanya postingan saya yang ini, saya khusus kan bwat nenekku yang udah berbeda alam dengan saya….
    saya pgn minta maaf ma nenekku tercinta….skaligus juga pengen memuj-muji nenekku tercinta….n pengen ngedoain nenekku tersayang…oce…

    nenekku….
    namanya syarifah sidah binti abdurrahman bin husein aljufrie…
    lahir di bogor bulan april taun 1935…
    jadi dia umurnya 72 taon…
    dia tutup usia di bogor tanggal 5 oktober 2007 atau 23 ramadhan 1428.. 7 hari menuju hari raya ied….
    saat ntu mungkin saat yang paling sedih bwat keluarga saya….dan merupakan ied yang paling hampa bwat keluarga saya…. ga ada orang yang paling dituakan di keluarga lagi….
    nenekku ini dikeluarganya (adik-kakak) disebut sebagai mutiaranya keluarga….karena orangnya yang pendiem,,tidak mudah marah,,gampang memberi,,dan gampang nolong orang….
    dy bagi sayalebih dari sekedar mutiara,, tapi dia jg jantung saya yang sebelah(sebelah lagi my mom)…
    ketika dy masih ada… dy ga segan bwat nolong dan memberi orang… bahkan orang yang sudah berhenti dari bekerja dirumah saya pun masih saja diberi… hampir setiap bulannya dy mengirimkan beras atau apapun itu orang-orang yang dia anggap butuh…bahkan klo dy ga memberi maka dy menganggap seperti memiliki hutang pada orang-orang tesebut…
    walaupun pada saat dy masih ada..kadang-kadang saya suka marah ke dy atau bahkan nyentak….
    tapi dy ga pernah marah atau bales nyetak…
    say pgn ketemu ma dy.. tapi kapan?? brapa lama gw haruz nunggu???1 bulan,2bulan,1 tahun,2tahun,atau 100tahun…saya ga tau kapan maut ntu menjemput saya wat mepertemukan saya ma nenekku…
    mungkin hanya doa yang bisa saya lakukan…bner tidak…
    semoga doa ini didengar dan dikabulkan oleh ALLAH SWT..amin..

    ALLAHUMA INNA SYARIFAH SIDAH BINT ABDURRAHMAN BIN HUSEIN ALJUFRIE FII DZIMMATIKA,, WA HABLI JIWARIKA,, FAQIHI MIN FITNATILQOBR WA ADZAABINNAR,, WA ANTA AHLULWAFAAI WALHAQQ,, FAAGFIRLAHU WARHAMHU INNAKA ANTALGOFURULROHIIM…AMIIIN…

    artinya…

    ya ALLAH! sesungguhnya SYARIFAH SIDAH BINT ABDURRAHMAN BIN HUSEIN ALJUFRIE dalam tanggunganMU dan tali perlindunganMU. perihalah dia dari FITNAH kubur dan SIKSA neraka. ENGKAU adalah MAHA SETIA dan MAHA BENAR. AMPUNILAH dan BELAS KASIHANILAH dia. sesungguhnya ENGKAU, DZAT YANG MAHA PENGAMPUN lagi PENYAYANG…AMIEN…

    ALLAHUMMAGFIRLAHU WARHAMHU,, WA AAFIHU,, WAAFUANHU,, WA AKRIM NUZULAHU,, WA WASSMUDKHOLAHU,, WAGSILHU BILMAAI WALTSAJI WALBARDI,, WA NAQQHI MINAKHOTOOYAA KAMA NAQQTALLLTSAUBAL ABYADHA MINALDDANASI,, WA ABDILAHU DARAAN KHOIROON MINADAARIHI,, WA AHLAN KHOIROON MINA AHLIHI,, WA ZAUJAN MINA ZAUJIHI,, WA ADKHILHUL JANNATA,, WA AIDZHU MINA ADZABI QOBR WA ADZABINNAAR…AMIIINNN…

    artinya…

    ya ALLAH! ampunilah dia berilah RAHMAT kepadanya, SELAMATkan dia, AMPUNILAH dan tempatkanlah di tempat yang MULIA, luaskan KUBURANnya, mandikan dia dengan air SALJU dan air ES. BERSIHKAN dia dari beberapa KESALAHAN, sebagaimana ENGKAU membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lenih BAIK daripada rumahnya, berilah KELUARGA yang lebih BAIK dari pada keluarganya, SUAMI yang lebih BAIK daripada suaminya, dan masukan dia ke SURGA, jagalah dia dari SIKSA KUBUR DAN NERAKA…. AMIIINNNN…

    Wassalamualaikum,wr,wb..

     
    • Landy 10:15 pm on April 12, 2008 Permalink | Balas

      :( jadi sedih , dulu waktu almarhumah nenek aku meninggal aku sampe nangis 2 jam gak berhenti, karena aku merupakan cucu yang tidak hadir ketika almarhuma menghembuskan nafasnya waktu itu lagi ujian di kampus, tapi yang membuat aku tenang dan yakin Nenek bahwa beliau akan baik2 saja adalah beliau matinya nyebut ALLAH dan semua orang denger yang ada di situ :( aduh dah ah aku jadi nangis nulisnya :( semoga nenek aku dan nenek mu baik2 saja disana amien

    • yanti 3:05 pm on April 13, 2008 Permalink | Balas

      Wah pamali… minta “berangkat” duluan..
      Antri… tunggu giliran.!!!!
      Saya aja udah antri 40 tahun belum dapat “seat”

      paling tidak…
      sambil ngantri dan nunggu… kita “cuci mata”… kali-kali ada yang bisa dibantu atau “bagi-bagi bantuan”… kan enak…. GrandMa… udah contohin kan.. bagaimana sikap antri dan menunggu yang baik… di tiru dong….

    • nurma 8:19 pm on April 13, 2008 Permalink | Balas

      Ikutan ngantri ah…
      *gelar tiker sambil sesekali “cuci mata” :mrgreen: *

    • Koko 11:21 am on April 14, 2008 Permalink | Balas

      Orang yang kita cintai, selalu hidup di dalam hati kita…

      Cobalah sesekali bercakap2 dengan hati kita.. :D

    • Santri Gundhul 10:23 am on April 15, 2008 Permalink | Balas

      ya ALLAH! ampunilah dia berilah RAHMAT kepadanya, SELAMATkan dia, AMPUNILAH dan tempatkanlah di tempat yang MULIA, luaskan KUBURANnya, mandikan dia dengan air SALJU dan air ES. BERSIHKAN dia dari beberapa KESALAHAN, sebagaimana ENGKAU membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lenih BAIK daripada rumahnya, berilah KELUARGA yang lebih BAIK dari pada keluarganya, SUAMI yang lebih BAIK daripada suaminya, dan masukan dia ke SURGA, jagalah dia dari SIKSA KUBUR DAN NERAKA…. AMIIINNNN…

      Heks..heks….
      mas Syahbal, Ini DOA kok NGELUNJAK banget yah….
      Dan, SEJAK KAPAN yah… TUHAN jadi PEMBANTU, JONGOS, BATUR sang manusia…???.

      Coba sampeyan RENUNGKAN…kisahnya Nabi Nuh…
      Teguran Tuhan terhadap Nabi Nuh ketika Nuh ber DOA….
      Hai…Nuh, Janganlah engkau berDOA apabila engkau TIDAK mengetahui HAKEKAT sebuah DOA….

      cari saja kisahnya Nuh, dalam teks book Kitab Suci AQ.

    • nh18 11:46 am on April 15, 2008 Permalink | Balas

      Bal …
      semoga beliau bahagia di alam sana ya Bal …
      Saya turut berdoa untuk beliau …

      Salam saya

    • syahbal 9:38 pm on April 15, 2008 Permalink | Balas

      @semua yg datang..
      terima kasih telah sudi datang dan turut mendoakan.. amiin

      @mas kariyan..

      heks..heks..juga..
      ngelunjak?? wah ga tau tuh y..
      sebab doa itu diajarkan ama Rasulullah SAW.. liat dweh H.R. muslim 2/634..
      mengenai Nuh.. itu juga pernah terjadi oleh Baginda Rasulullah SAW.. ketika Ia mendoakan Abi thalib.. Mereka mendoakan orng yg mereka cintai.. tapi yg dicintai itu masih dalam keadaan musyrik atw kafir.. jadi renungkan dweh oleh mas sendiri.. oceh..oceh..

    • Um Ibrahim 12:07 am on April 16, 2008 Permalink | Balas

      Salaam,

      Amiin…amiin…amiin Allahuma amiin

    • oRiDo 8:45 am on April 16, 2008 Permalink | Balas

      hmmmm…
      masalah mati…
      bikin merinding..
      siap kah kita…???

    • Sawali Tuhusetya 10:03 pm on April 16, 2008 Permalink | Balas

      semoga almarhumah mendapatkan kedamaian, kenyamanan, ketentraman, dan kebahagiaan di alamnya yang baru, keluarga yang ditinggalkan semoga tabah, amiin. saya kira semua orang akan menuju ke “rumah masa depan” seperti yang dialami oleh sang grandmother.

    • daengfattah 2:08 pm on April 17, 2008 Permalink | Balas

      Gue jadi inget nenek gue juga yang animis. Hiks

    • iis sugianti 7:35 am on September 1, 2008 Permalink | Balas

      OOT:Kepada rekans smuah, Iis dan keluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, semoga amalan rekans semua berkah dan mendapat imbalan yang setimpal dari Alloh SWT. Amiieen.

  • syahbal 10:58 am on April 12, 2008 Permalink | Balas
    Tags: adam, bani, basyar, , imsan, insan, , , , , spirit, ,   

    Manusia…(2) 

    Hakikat Manusia.

    Sebutan Manusia dalam AlQuran.
    Manusia disebut dalam AlQuran dengan berbagai sebutan, yang menunjukan kemulti dimensian manusia.

    1. Al-Insan.
    sebutan ini menunjuk karakter manusia yang sering berbuat salah, lemah, dan berbagai kekurangan lainnya.
    Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,(alMaarij:19-21)
    Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.(AnNissa:28)
    2. An-Naas.
    yang menunjuk pada karakter rabbaniyah atau uluhiyah, yakni makhluk yang menyembah pada penciptanya.
    Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.(AnNaas:1-6)
    3. Al-Basyar.
    menunjuk manusia sebagai makhluk Biologis yang membutuhkan makan, minum, berusaha, dan sebagainya.
    Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (AlKahfi:110)
    4. Bani Adam.
    menunjuk pada ketinggian kedudukan manusia diatas makhluk Allah lainnya.
    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (AlIsra:70)

    Hakikat dan Potensi Manusia.

    AlQuran mendeskripsikan manusia dengan perspektif yang menyeluruh. hal ini menunjukan bahwa untuk mendeskripsikan dan memahami manusia tidak cukup dari satu aspek, namun mesti dilihat secara komperhensif.
    Manusia adalah makhluk Allah yang disusun dari ruh dan tanah dan dilengkapi denag potensi hati, akal, dan jasad (alhijr: 28-30, AnNahl:78). denga potensi itulah manusia dilebihkan dari makhluk yang lain. kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan untuk menjalankan amanah ibadah
    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. AdzDzariyat:56).
    dan menjalankan fungsi khalifah
    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. AlBaqarah:30)
    Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud:61).
    peranan dan tugas yang dilakukan ini akanmendapatkan balasan yang sesuai.
    Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah:7-8)
    Pendayagunaan potensi manusia.
    Apabila manusia menyadarai akan kelebihan yang dikaruniakan Allah kepadanya, tentu manusia akan mendayagunakan potensinya lebih produktif dari tanaman, bertingkah laku lebih dibanding hewan, dan mensucikan jiwanya sebagaimana malaikat, karena potansi yang demikian mulia dan tinggi disadari sebagai nikmat Allah, yang semestinya digunakan untuk bersyukur pada Allah, denga taat dan tunduk terhadap segala aturanNya dan meninggalkan segala laranganNya.
    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
    dalam rangka bersyukur kepada Allah, maka potensi yang Allah karuniakan pada manusia hendaknya didayagunakan seoptimal mungkin, sehingga tidak menganggur (idle), yang menjerumuskan diri manusia kedalam kekufuran dan adzab yang pedih. pendayagunaan potensi manusia secara tepat merupakan suatu hal yang dituntut, karena ia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Al-Isra:36)
    Hati hendaknya didayagunakan untuk menghasilkan motivasi dan niat yang baik (ikhlasun niyah) dalam segala aspek kehidupan. hati pun hendaknya didayagunakan dalam rangka membangun keinginan-keinginan manusia yang kuat (al Azmu al Aniid), sehingga manusia hidup mempunyai cita-cita, obsesi, tujuan , visi yang bersih dengan senantiasa melakukan pembersiahan hati dan mengingat Allah. dengan dzikrullah hati menjadi tenteram, kuat dan teguh.
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (ArRaad:28).
    dengan tazkiyatu nafs (pembersihan hati), hati menjadi bersih, tumbuh, dan berkembang untuk meraih kemenangan.
    sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (Asy-Syams:9)
    posisi hati dalm hidup manusia sangatlah sentral, karena dalam hati terletak motivasi, didalam hati pula terletak potensi taqwa dan kejahatan. Beruntung orang yang mendayagunakannya dengan Tazkiyatun Nafs dan merugilah orang yang mengotorinya dengan kedurhakaan. Rasulullah SAW bersabda: “… ingatlah bahwa dalam jasad (tubuh seorang itu) ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya dan jika rusak maka rusaklah jasad seluruhnya. ingatlah ia adalah HATI” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Akal hendaknya didayagunakan dalam rangka memperoleh ilmu Allah baik yang termaktub dalam kitabnya (qauliyah) maupun dalam ayat-ayatNya yang terbentang luas dialam ciptaanNya (kauniyah). Tak disangsikan lagi bahwa kehebatan manusia adalah terletak pada penggunaan akalnya. dengan penggunaan akal tersebut manusia meraih kemajuan-kemajuan yang luar biasa. kemajuan ilmu dan teknologi, kemajuan komunikasi dan informasi telah banyak merubah tatanan kehidupan manusia secara global. dengan ilmu manusia mendapatkan rahasia nikmat Allah yang tersimpan dalam ciptaanNya. Allah SWT mengangkat derajat kehidupan orang yang berilmu pengetahuan lebih baik dari orang yang tidak berilmu pengetahuan.
    Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-mujadilah:11)
    ilmu hendaknya dijadiakn landasan dalam beramal, sebab tanpa ilmu amal manusia menjadi sia-sia. tanpa ilmu, amal manusia menjadi tidak terencana, tidak terkendali, tidak terfokus, dan tidak tercapai tujuan dengan tepat.
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Al-Isra:36)
    Pada akhirnya ilmu hendaknya menjadi sarana bagi manusia untuk lebih dekat dan takut kepada Allah SWT.
    Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir:28).


    Wassalamualaikum,wr,wb.

     
    • daengfattah 12:46 pm on April 12, 2008 Permalink | Balas

      Bisakah saudara menjelaskan kenapa anak kecil yang tidak berdosa mengalam i penderitaan, seperti kanker darah dsb?

  • syahbal 1:48 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas
    Tags: , akal, ciptaan, fikir, , ilmu, , , , , proses, , , teknologi, tuhan   

    Manusia…(1) 

    Manusia Dalam AlQuran

    Pengenalan terhadap manusia sering dilakukan dengan menggunakan akal. Padahal akal merupakan bagian kecil dari komponen yang ada didalam manusia itu sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk mengenali dirinya sendiri apalagi mengenal manusia secara keseluruhan. kemampuan akal manusiapun sangat terbatas, tidak mampu menembus batas ruang dan waktu yang tak terbatas. tidak mengherankan jika para pakar mempunyai teori dan definisinya sendiri-sendiri. berbagai dsiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, filsafat, dan teologi mempunyai berbagai pendekatan dan teori yang berlainan tentang manusia. Pakar ekonomi mengatakan manusia adalah makhluk ekonomi (homo economicus), pakar sosial mengatakan manusia adalah makhluk sosial (homo socious), pakar psikologi mengatkan manusia adalah makhluk yang membutuhkan rasa aman, dan lain sebagainya. Pengenalan manusia dengan akal, karenanya sering menimbulkan kekaburan, bahkan dapat menyeret pada kesesatan, karena memandang manusia dari satu aspek saja, bahkan tak memberikan jawaban yang jelas tentang asal kejadian manusia. disamping itu, faktor kesombongan dan merasa diri paling hebat dan paling pandai menghalangi manusia untuk mencapai kebenaran yang hakiki. (More …)

     
    • daengfattah 1:48 pm on April 6, 2008 Permalink | Balas

      Gagasan bahwa quran memiliki kandungan mengenai embriologi berasal dari publikasi DR Keith Moore. Beliau bekerja dalam komite embriologi di universitas king abdul azis di jeddah. Tugasnya adalah menerjemahkan banyak pernyataan qur’an dan sunnah mengenai reproduksi manusia dan perkembangan pra lahir.
      “Adalah merupakan kegembiraan besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan dalam qur’an mengenai perkembangan manusia. Adalah jelas bagi saya bahwa pernyataan2 ini pasti datang ke Muhammad dari Allah, karena sebagian besar dari pengetahuan ini belum ditemukan hingga berabad2 emudian (?). Ini membuktikan pada saya bahwa Muhammad pastilah utusan Allah.”
      Ia tidak pernah menunjukkan pernyataan mana dalam qur’an yang ilmiah mana yang bukan. Ia hanya mengatakan bahwa orang islam ingin mendengar, mengambil uangnya dan pulang. Ia tidak pernah masuk islam.
      Hanya sekedar memberikan Fakta:

      1). Keith Moore bukanlah ilmuan,
      2). Ia belum pernah menerbitkan satupun tulisan dalam jurnal ilmiah mengenai penelitiannya dlam embriologi.
      2). Keith Moore tidak melakukan penelitian apapun dalam Embriologi.
      3). Keith Moore adalah fisiolog dan penulis yang sangat tidak dewasa yang menyelaraskan quran dengan embriologi saat ia dipekerjakan oleh mantan raja abdul aziz.

    • Um Ibrahim 8:44 pm on April 6, 2008 Permalink | Balas

      Ma’kasih neh atas risalahnya, sangat bermanfaat :)

    • norie 7:14 pm on April 10, 2008 Permalink | Balas

      lama ane kagak berkunjung kemari. syukron artikelnya bagus neh. tetep nulis ya akh. :)

    • Admin 8:40 am on April 12, 2008 Permalink | Balas

      Aturan blog gemana maksudnya. Kalo disini sich cuman yang mengandung terorisme. Kalo pornografi dan teman-temanya dibiarin aja tuch.

    • nungke ibrahim 6:27 am on Desember 23, 2008 Permalink | Balas

      Alhamdulillah Allah mengarahkan saya pada blog yang bagus ini. jazakallah sudah memberi pencerahan.

  • syahbal 10:05 pm on March 30, 2008 Permalink | Balas
    Tags: , , , , kita, ,   

    Hakikat Kita (Manusia) 

    Assalamualaikum,Wr,Wb.

    Kemari ketika saya sedang menyendiri meditasi mencari Tuhan, di suatu sudut di kamar saya (tepatnya di depan komputer), sambil ditemani lantunan Asmaul Husna yang menenangkan hati. Tiba-tiba otak dan hati saya berdenyut (seperti Jimmy Neutron), dan mengatakan bagaimana caranya saya mencari Tuhan, jikalau hakikat saya sendiri saja tidak tahu. seketika saya ingat akan beberapa pertanyaan yang diberikan oleh assisten dosen ketika responsi mata kuliah sosiologi dan agama islam, pertanyaan tersebut ialah:
    1. Dari mana manusia berasal?
    2. Untuk apa manusia hidup?
    3. Dapatkah manusia berbuat sesuai kehendaknya?
    4. Mau kemana setelah manusia Hidup?
    setelah mengingat pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mengingat jawabannya, namun gagal. otak saya tidak dapat mengingatnya. tapi usaha saya tidak sampai disitu saja. saya berusaha untuk mencari kertas-kertas dimana saya menulis jawabannya. tapi itu juga percuma. entah kemana kertas itu sekarang. mungkin sudah jadi kertas gorengan. maka dari itu saya mencoba untuk kembali menjawabnya kembali. akhirnya bisa!
    tapi saya ingin mencari tahu dulu jawaban dari orang lain. mungkin anda mau mencoba menjawabnya? sehingga saya dapat membandingkan seberapa ilmiah jawaban saya. sebab hampir semua jawaban saya tidak ada yang ilmiah. maklumlah IQ jongkok. hehei.
    maka dari itu sudikah anda semua untuk membantu saya.
    InshAllah jawaban saya akan saya posting dalam beberapa postingan kedepan. InshAllah.
    Terima Kasih.
    Wassalamualaikum,Wr,Wb.

     
    • bloggwalking 4:21 pm on Maret 31, 2008 Permalink | Balas

      hahahaha :mrgreen:
      wah..bermanfaat bgt.

      kren,kren!
      lam knal yo

    • Um Ibrahim 11:39 am on April 1, 2008 Permalink | Balas

      1.berasal dari: tanah yg dihembuskan ruh, tulang rusuk yg dibentuk & dihembuskan ruh, pembuahan sel telur & sperma yg dihembuskan ruh.
      2.kehidupan dunia adalah perjalanan menuju akhirat
      3.segala perbuatan yg dilakukan manusia “dewasa” adalah pilihan masing2 pribadi
      4.balik lagi kepada pilihan yg dijalankan dalam kehidupan, setelah itu ya pilihannya “jannah” atau “jahanam”

      Semua jawaban pertanyaan yang ada di Al Qur’an, kalo tiap saat dibaca pasti jawaban2 itu tidak akan pernah hilang atau dilupakan :)

    • Abu Ilyasa 5:58 pm on April 1, 2008 Permalink | Balas

      Hakikat Hidup Seorang Muslim
      Oleh : Muhammad Shiddiq Al Jawi

      Mukadimah
      Seorang muslim sudah seharusnya memahami hakikat hidupnya di dunia: Dari mana ia berasal, untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidupnya, serta kemana setelah mati? Sudah sewajarnya bila setiap muslim memahami hal ini. Pemahaman akan hakikat hidup sangatlah penting, oleh karena ia akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang. Saking pentingnya persoalan ini, sampai mungkin bisa dikatakan, janganlah kita hidup sebelum memahami apa sebenarnya hakikat hidup kita itu.

      Tapi tidak sedikit muslim yang tidak memahami, bahkan kehilangan makna hidupnya yang hakiki ini. Ada yang terhanyut oleh pola hidup sekuler, ada pula yang acuh tak acuh menjalani hidupnya. Padahal, memahami hakikat hidup bukan hal yang sukar bagi seorang muslim. Allah SWT telah memberikan bekal dan potensi pada diri manusia, berupa daya pikir (akal) dan fitrah yang melekat pada manusia sejak dia diciptakan oleh Allah SWT. Allah SWT telah memberikan panca-indera, sebagai salah satu unsur penting untuk proses berpikir.

      “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An Nahl : 78)

      Semua bekal ini semestinya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya, agar pada gilirannya ia dapat memahami hakikat hidupnya di dunia.

      Kegagalan manusia dalam memahami hakikat hidupnya, tiada lain karena kelalaian dan keengganannya menggunakan bekal-bekal tersebut, sehingga arah dan orientasi hidupnya menjadi tidak jelas atau menyimpang dari jalan yang semestinya. Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yang dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Orang sesat seperti ini dicap oleh Allah SWT bagaikan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi daripada itu.

      “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) , dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raaf : 179)

      “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al Furqaan : 43-44)

      Jelaslah, memahami hakikat hidup merupakan suatu hal yang sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup, akan membuat seseorang menjalani hidup bagaikan layang-layang putus yang bergerak mengikuti kemana angin berhembus, atau bagaikan kapal berlayar tanpa nakhoda yang bisa saja menumbuk karang, atau dihempaskan ombak ke mana saja tanpa tujuan. Artinya, seorang muslim mudah sekalil tersesat, atau bahkan tak mustahil menjadi murtad tanpa dia sadari, sehingga amalnya di dunia menjadi sia-sia bagaikan fatamorgana atau debu beterbangan.

      “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqaan : 24)

      Definisi Hidup
      Hidup dapat didefinisikan dari dua aspek. Pertama, aspek biologis dan kedua, aspek sosiologis. Dari aspek biologis, hidup (al hayah) seperti diungkapkan oleh Ghanim Abduh dalam Naqdhul Isytirakiyah Al Marksiyah adalah sesuatu yang maujud (ada) dalam makhluk hidup (asy-syai`u al- qaa`im fi al- ka`ini al- hayyi).

      Dalam pengertian ini, hidup dipahami sebagai esensi yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang membedakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu benda mati secara asli, seperti batu, maupun benda mati dalam arti benda yang sebelumnya berasal dari benda hidup, seperti kayu.

      Hidup, dengan demikian, nampak dan eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti kebutuhan akan nutrisi, gerak, peka terhadap rangsang, pertumbuhan, dan perkembangbiakan.

      Lawan dari hidup dalam pengertian biologis ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati karena tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah membujur kaku di kamar jenazah disebut telah mati, karena telah hilang darinya tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya.

      Secara sosiologis, hidup berkaitan erat dengan segala perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Ketika menerangkan pengertian isti`naful hayatil Islamiyah (melanjutkan kehidupan Islam), Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Manhaj Hizbu al-Tahrir, menyebutkan bahwa hidup (al-hayah) adalah seluruh interaksi yang dilakukan manusia (jami’u alaaqati al-nas). Dalam perspektif ini, hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain.

      Tatkala manusia melakukan aktivitasnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain, berarti dia telah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Artinya, dia telah menjalani atau “mengisi” hidupnya.
      Kebalikan dari hidup dalam pengertian ini, adalah tiadanya interaksi di antara manusia. Seseorang mungkin saja mengisolasi dirinya (beruzlah) dari masyarakat, atau bisa saja sebuah kota dibom sehingga seluruh penduduknya mati. Maka, kita dapat mengatakan bahwa orang yang beruzlah tadi telah “mati”, atau kota tadi telah “mati”, karena pada keduanya tak terdapat interaksi antar manusia yang menjadi pertanda adanya sebuah kehidupan.

      Kendatipun pengertian hidup dapat dibedakan dalam arti biologis dan sosiologis, namun keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, hidup dalam arti biologis, adalah syarat bagi adanya hidup dalam arti sosiologis. Tak akan ada hidup dalam pengertian sosiologis, kecuali dengan adanya hidup dalam pengertian biologis. Meskipun mungkin saja terdapat hidup dalam makna biologis, tetapi tak terdapat hidup secara sosiologis.

      Al Uqdatu al-Kubro : Pertanyaan Mendasar
      Dalam hidupnya manusia sadar atau tidak, akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini, diistilahkan oleh Taqiyyuddin An Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam (1953) dengan al-Uqdatu al-Kubro. Secara harfiah, al-Uqdatu al-Kubro artinya adalah simpul yang besar. Pertanyaan mendasar ini berkisar tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, yang ada dalam kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), juga mengenai apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dan sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia sekarang, dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia itu.

      Dalam ungkapan lain, pertanyaan mendasar tersebut dapat diuraikan menjadi 3 (tiga) pertanyaan utama.

      Pertanyaan pertama, “Darimanakah manusia, hidup, dan alam semesta ini berasal?” Apakah ketiga ini ada dengan sendirinya ataukah ada yang mengadakannya? Pertanyaan ini, sebagaimana uraian Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Al-Tafkir, berkaitan erat dengan fakta bahwa manusia itu hidup di alam semesta (li anna al-insaana yahya fi al-kaun). Maka wajar bila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam arti biologis) yang ada pada dirinya dan makhluk lainnya, dan tentang alam semesta yang merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini, menanyakan tentang hakikat apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya).

      Pertanyaan kedua, “Untuk apa manusia hidup?” Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu al-dunya). Sehingga wajar bila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup (dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdhah (1988), pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (ma’na wujudi al- insaan fi al-hayah).

      Pertanyaaan ketiga, “Kemana manusia pergi setelah mati nanti?” Pertanyaan ini juga sangat wajar, karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti terbit pertanyaan apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataukah justru kematian itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan yang baru selanjutnya. Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya).

      Di samping ketiga pertanyaan utama tersebut, hal penting lain yang juga menjadi pertanyaan adalah adakah hubungan (‘alaaqah/shilah) antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia kini (ba’da al-hayati al-dunya) dengan apa yang ada sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya). Jika ada, hubungan apakah itu?

      Tak ayal lagi, semua pertanyaan dalam simpul besar (al-uqdatu al- Kubro) itu memang merupakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang memerlukan jawaban tuntas sebagaimana halnya simpul-simpul besar pada tali yang harus diuraikan terlebih dahulu agar tali itu dapat digunakan. Bila simpul besar ini berhasil diurai, seperti diungkapkan Taqiyuddin An Nabhani, niscaya simpul-simpul cabang berikutnya akan dengan mudah diuraikan. Simpul-simpul ini adalah pertanyaan-pertanyaan praktis yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, semisal mengapa dan bagaimana kita harus bekerja mencari nafkah, bagaimana kita harus membina sebuah keluarga yang bahagia, bagaimana kita harus berpolitik dalam kehidupan bernegara, dan sebagainya.

      Menghadapi pertanyaan mendasar dalam Al-Uqdatu al-Kubro yang sangat menguras pikiran itu, sikap manusia bermacam-macam. Ada yang lari atau tak acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga akhirnya mereka menjalani hidup sekedarnya saja. Tanpa makna, tanpa visi, tanpa misi. Kosong dan absurd. Namun ada pula yang berhasil menjawabnya setelah berusaha mencari jawabannya dengan serius, terlepas dari benar tidaknya jawaban tersebut.

      Jawaban-jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro ini menurut Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) karena jawabannya mencakup segala sesuatu yang maujud (alam semesta, manusia, dan kehidupan) di samping mencakup ketiga fase kehidupan yang dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiganya. Jawaban itu disebutnya juga sebagai aqidah (pemikiran yang mendasar) dan qa’idah fikriyah (landasan pemikiran). Disebut aqidah, karena memang jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro merupakan pemikiran yang mendasar. Dan disebut qa’idah fikriyah, karena jawaban itu merupakan basis pemikiran yang di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan.

      Maka, jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro bisa beraneka macam, bergantung kepada aqidah (keyakinan) yang dianut seseorang. Di sini akan diuraikan jawaban dari sudut pandang keyakinan Islam dan sekulerisme, mengingat paham sekulerisme inilah yang kini merajalela di dunia, termasuk di dunia Islam, setelah sosialisme runtuh di penghujung tahun 80-an.

      Jawaban Islam Terhadap Al-Uqdatu al-Kubro
      Jawaban Islam terhadap al-Uqdatu al-Kubro bersumber Al Qur`an dan As Sunnah. Keduanya keduanya merupakan wahyu yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad sebagai petunjuk hidup.

      1. Jawaban pertanyaan “Dari Mana Manusia Hidup?”
      Terhadap pertanyaan “Dari manakah manusia, hidup, dan alam semesta berasal?”, maka Islam memberikan jawaban bahwa ketiga hal tersebut diciptakan oleh Allah SWT, tidak maujud dengan sendirinya. Dengan kata lain, apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya), adalah Allah SWT. Jawaban ini diterangkan dalam banyak nash, di antaranya,

      “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al Baqarah : 21)

      “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al Infithaar : 6-7)

      “Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati lalu Allah menghidupkan kalian; kemudian Allah mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?” (QS Al Baqarah : 28)

      Ayat-ayat di atas menegaskan dengan jelas bahwa muasal manusia adalah karena diciptakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya, tercipta semata-mata karena proses-proses alam, atau tercipta melalui evolusi dari organisme lain yang lebih sederhana. Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan membuatnya hidup di dunia sampai batas waktu tertentu untuk kemudian nanti dikembalikan lagi kepada-Nya.

      2. Jawaban pertanyaan “Untuk Apa Manusia Hidup?”
      Terhadap pertanyaan “Untuk apa manusia hidup?” Islam menjawab, bahwa manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Yaitu untuk mentaati Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Misi hidup manusia ini dijelaskan Allah:

      “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyaat : 56)

      “Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS Al Bayyinah : 5)

      Ibadah menurut kamus Al Muhith karya Imam Al Fairuz Abadi, secara bahasa artinya adalah taat (patuh, tunduk). Sedang menurut istilah, sebagaimana diuraikan oleh Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami ibadah memiliki dua arti: arti umum dan arti khusus. Arti secara umum — ini pula yang dimaksud dengan ibadah dalam kedua ayat di atas — adalah mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Adapun arti ibadah secara khusus adalah ketaatan kepada hukum syara’ yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya, seperti shalat, zakat, haji, do’a, dan sebagainya.

      Mengaktualisasikan ibadah dalam arti umum inilah yang secara konkret merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakekat hidup manusia di dunia, dan ini pula yang wajib menjadi landasan segala kiprahnya. Aktualisasi ibadah terwujud ketika seorang muslim mengikatkan dirinya dengan hukum-hukum syara’ dalam segala aktivitasnya, baik ketika berhubungan dengan Rabb-nya dalam bidang aqidah dan ibadah, berhubungan dengan dirinya sendiri dalam bidang akhlak, makanan, minuman, dan pakaian, maupun berinteraksi dengan sesamanya dalam bidang mu’amalah dan uqubat (hukuman dan sanksi).

      Ketika seorang muslim menjalankan shalat lima waktu, mengeluarkan zakat setiap tahun, berpuasa di bulan Ramadhan, beribadah haji, bertaubat, atau membaca Al Qur`an disebut sedang melaksanakan ibadah (dalam arti khusus). Begitu pula tatkala dia bekerja secara profesional dengan etos kerja tinggi didukung keahlian dan sikap amanah, mendidik anak dengan cara Islam, menepati janji, mengkaji ajaran Islam, mempedulikan keadaan kaum muslimin yang lain, aktif berdakwah atau dalam kegiatan keIslaman, bersabar tatkala mendapat musibah, memerintahkan isteri atau anak perempuannya berjilbab, menengok teman yang sakit, bermusyawarah, menjaga kesehatan dan kebersihan dan sebagainnya dia pun juga tengah menjalankan misi ibadah.

      Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas, melakukan korupsi dan manipulasi, memberi atau menerima suap, berbohong, berzina, menenggak minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengunjungi pub/diskotik, membantu terjadinya perzinaan, suka mendzalimi orang lain dan sebagainya, dikatakan ia telah telah melakukan maksiat kepada Allah. Berarti ia telah lupa terhadap hakikat keberadaannya di dunia. Demikian pula halnya bila dia menentang dakwah Islam, berjudi, menyatakan bahwa hukum Islam tidak layak karena dinilai kejam, merayakan Natal bersama, melakukan pelecehan seksual, berhutang tak mau bayar, meninggalkan shalat lima waktu atau shalat Jum’at, tidak memakai jilbab; berarti dia telah lalai dari arti hakikat hidupnya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah.

      3. Jawaban pertanyaan “Kemana Manusia Setelah Mati?”
      Terhadap pertanyaan, “Kemana manusia setelah mati?”, Islam menjawab, bahwa setelah kematian akan ada Hari Kiamat (Yaumu al- Qiyamah). Islam menegaskan bahwa kehidupan tidaklah hanya ada di dunia saja, tapi juga di akhirat, yang mau tidak mau pasti akan dilalui manusia. Manusia adalah mahluk Allah, berasal dari Dia dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pada hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan lagi dari kuburnya untuk dihisab amal perbuatannya oleh Allah SWT, lalu ditentukan tempat selanjutnya: di sorga atau neraka.

      “Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di Hari Kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16)

      “Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS Al Qiyaamah : 3-4)

      Ketika dibangkitkan dari kuburnya, manusia dalam keadaan telanjang bulat. Sabda Nabi SAW :

      “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat tanpa alas kaki, telanjang bulat, dan tidak berkhitan. ‘Aisyah bertanya,’Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?’ Rasulullah menjawab,’Hai ‘Aisyah, pada saat itu perkara (Hari Kiamat) sangat dahsyat sehingga orang tidak akan memperhatikan hal itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Pada Hari Kiamat itu keadaan manusia yang dibangkitkan beraneka ragam sesuai dengan iman dan amal perbuatannya di dunia.

      “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS Al Zalzalah : 6-8).

      Orang-orang kafir yang tak mempercayai Hari Kiamat akan benar-benar kaget dibuatnya.

      “Dan ditiupkan sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan Dzat yang Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya” (QS Yasin : 51-52)

      Karena penyesalan yang teramat sangat, sampai-sampai orang-orang kafir saat itu berharap alangkah baiknya seandainya dulu di dunia menjadi tanah saja !

      “Dia mengatakan,’Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS Al Fajr : 24)

      “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang orang kafir berkata,”Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS An Naba` : 40)

      Adapun orang muslim yang banyak berbuat dosa juga akan menyesal mengapa semasa hidup di dunia tidak menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya dan telah mengambil teman (panutan) yang sesat dan menyesatkan.
      “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata,’Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur`an ketika Al Qur`an itu telah datang kepadaku…” (QS Al Furqaan : 27-29)

      Sedangkan orang-orang muslim yang taat menjalankan ketentuan-ketentuan ajaran Islam ketika di dunia tidak mengalami kegoncangan atau kekerasan pada Hari Kiamat. Nabi Muhammad SAW menyabdakan :

      “Orang-orang ahli Laa ilaaha illallah (yang mengucapkan kalimat tersebut dan menunaikan haknya/konsekuensinya) tidak akan mengalami kegoncangan tatkala wafat, di alam kubur, dan tatkala dia dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka –ketika ditiup sangkakala yang kedua (saat dibangkitkan dari kubur)- sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata,’Segala puji bagi Allah, yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (HR. Abu Ya’la)

      Setelah dibangkitkan, manusia kemudian dihisab oleh Allah SWT. Pada saat itu Allah SWT akan menanyakan segala amal baik dan amal buruk yang pernah dilakukan manusia di dunia, baik amal yang kecil dan remeh, maupun amal yang besar dan agung. Pada saat itu, tiap manusia bahkan dapat membaca sendiri catatan amal perbuatannya dalam sebuah kitab yang diberikan kepada mereka.

      “Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al Hijr : 92-93)

      Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

      “Kedua telapak kaki seorang anak Adam di Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai 5 (lima perkara) : tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukannya, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR Ahmad).

      Allah SWT berfirman bahwa manusia akan membaca catatan amalnya sendiri selama hidup di dunia :

      “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali pada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).“ (QS Al Insyiqaq : 7-12)

      “Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduh celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang mereka telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun jua.” (QS Al Kahfi : 49).

      Setelah itu manusia akan digiring ke tempat dimana timbangan amal perbuatannya diletakkan.

      “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al Anbiyaa` : 47).

      “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS Al Qari’ah : 6-9).

      Setelah tahapan ini selesai, manusia akan dimasukkan ke dalam neraka atau surga. Orang kafir, baik dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) atau orang musyrik, akan dijebloskan ke neraka dengan diseret atas muka mereka selamanya. Orang muslim yang lebih banyak dos||anya daripada amal baiknya, akan masuk neraka untuk sementara waktu sesuai yang dikehendaki Allah. Selanjutya masuk surga.

      Sabda Nabi SAW :
      “… Allah memerintahkan para malaikat mengentas dari neraka itu orang-orang yang tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan syirik. Yaitu mereka yang berucap Laa ilaaha illallah. Orang-orang ini dapat diketahui melalui ciri khasnya, yakni di wajahnya ada bekas sujud. Api yang membakar tubuh manusia itu tidak sampai melalap bagian-bagian tubuh yang pernah bersujud. Dan itu memang dilarang Allah. Maka keluarlah mereka dalam keadaan terbakar. Untuk memadamkannya, disiramkanlah ke tubuh-tubuh yang hangus itu air kehidupan. Dari air itu bekas-bekas yang terbakar menjadi musnah dan membuat mereka tumbuh seperti biji-biji yang terbawa air bah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA)

      Adapun para Nabi, syuhada, ulama, shiddiqin, akan masuk ke dalam surga-Nya dengan mendapat limpahan rahmat dan ridla-Nya.

      “Orang-orang (kafir) yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.” (QS Al Furqaan : 34)

      “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al Bayyinah : 6)

      Siksa neraka begitu dahsyat. Amat berat penderitaan para penghuni neraka menanggung semua siksa. Rasul menggambarkan, siksa yang paling ringan saja cukup membuat otak mendidih.

      “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
      (QS An Nisaa` : 56).

      “Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” (QS Al Hajj : 19-20).

      “Azab yang paling ringan di neraka pada Hari Kiamat adalah seseorang yang pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tersebut.” (HR. At Tirmidzi)

      Adapun orang-orang mukmin, mereka akan masuk surga yang penuh kenikmatan, seraya mendapatkan ridlo dari Allah Azza Wa Jalla.

      “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al Waqi’ah : 17-24).

      “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu segolongan besar dari orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.” (QS Al Waqi’ah : 25-40).

      4. Hubungan Antar Fase-fase Kehidupan
      Islam menjelaskan pula, antara sebelum kehidupan dunia dengan kehidupan dunia terdapat 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan penciptaan (shilatu al-khalqi). Yakni bahwa Allah SWT sajalah yang menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta ini. Kedua, hubungan perintah dan larangan (shilatu al-awamir wa al-nawahi). Artinya Allah SWT tidak sekedar menciptakan, namun juga memberikan perintah dan larangan kepada manusia, yang termaktub dalam wahyu (Al Qur`an dan As Sunnah) yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

      Kedua bentuk hubungan itu dijelaskan dalam satu ayat suci Al Qur’an:
      “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah,Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raaf : 74)

      Dalam ayat di atas, ditegaskan bahwa menciptakan (al-khalq) dan memerintah (al-amr) adalah hak Allah semata. Hak memerintah dari Allah ini terwujud dalam dua bentuk. Pertama, perintah untuk alam semesta (al-amru al-kauni) berupa hukum-hukum alam (sunnatullah) yang berlaku untuk alam semesta; Kedua, perintah hukum syara’ (al-amru al-tasyri’i) berupa hukum-hukum syara’ yang mengatur peri kehidupan manusia.

      Hubungan antara kehidupan dunia (al-hayatu al-dunya) dengan apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya) dijelaskan oleh Islam dalam 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan pembangkitan dan pengumpulan (shilatu al-ba’tsi wa al-nusyur). Yakni bahwa Allah SWT akan membangkitkan manusia dari kuburnya, kemudian mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Kedua, hubungan perhitungan amal (shilatu al- muhasabah). Yakni Allah SWT tidak sekedar membangkitkan dan mengumpulkan manusia, namun juga melakukan hisab (perhitungan) terhadap amal perbuatan manusia tatkala hidup dunia, apakah ia beriman kepada Allah atau tidak; bila beriman, apakah ia menjalankan perintah-Nya atau tidak serta menjauhi larangan-Nya atau malah mengerjakannya.

      “Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16).

      Tentang hisab atau perhitungan amal baik dan buruk manusia, Allah menjelaskan:
      “Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. (QS Al Hijr : 92-93).

      Demikianlah jawaban Aqidah Islamiyah yang sangat gamblang dan jelas terhadap al-Uqdatu al-kubro. Jawaban-jawaban ini dapat diikhtisarkan dalam gambar 2 di bawah ini.

      Jawaban Sekulerisme Terhadap l Uqdatul Kubro
      Bagaimanakah Sekulerisme menjawab al-Uqdatu al-Kubro ? Sekularisme menjawab tiga pertanyaan mendasar itu kadang berdasarkan pada wahyu, kadang berdasar pada pemikiran spekulatif.

      Terhadap pertanyaan, “Dari manakah manusia berasal?”, Sekulerisme memang menjawab, bahwa manusia, juga alam semesta dan kehidupan, adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya) terdapat hubungan penciptaan (shilatu al-khalqi). Jawaban ini wajar adanya, karena paham sekulerisme tidak menafikan agama (Nashrani), melainkan hanya menolak perannya dalam mengatur kehidupan. Jadi, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dan peran-Nya dalam penciptaan tetap ada, walaupun hanya bersifat formalitas belaka.

      Bedanya dengan Islam, Sekulerisme tidak mengakui adanya hubungan perintah dan larangan (shilatu al-awamir wa al-nawahi) antara Tuhan dengan manusia. Tuhan dianggap tidak berhak mengatur bagaimana manusia harus berkiprah dalam aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan bidang kehidupan lainnya. Manusialah yang mengatur semua itu dengan hukum dan undang-undang buatannya sendiri. Tuhan hanya mengatur hubungan khusus yang bersifat personal antara manusia dan diri-Nya. Dalam kehidupan publik, manusialah yang berhak mengaturnya, bukan Tuhan (Hafizh Shalih, 1988)

      Mengenai pertanyaan ”Untuk apa manusia hidup di dunia?”, Sekulerisme memberikan jawaban bahwa manusia hidup di dunia adalah untuk mengejar kebahagiaan duniawi, yakni mencari kepuasan jasmani yang sebesar-besarnya. Inilah yang menyebabkan mengapa di tengah-tengah mereka berkembang paham hedonisme, pragmatisme, dan utilitarianisme. Dan semua sarana pemuasan tersebut dianggap tidak perlu diperoleh berdasarkan aturan agama. Cukup diperoleh dengan aturan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Bahkan untuk kehidupan umum mereka bersikeras harus steril dari pengaruh aturan agama (Ahmad Al Qashash, 1995).

      Ini jelas sangat berbeda dengan Islam. Islam menjelaskan bahwa tugas manusia di dunia adalah beribadah, yang pasti menggunakan ketentuan dan aturan Islam (hukum-hukum syara’) dalam segala aspek kehidupannya, bukan dalam aspek ibadah mahdhah saja. Bahkan Islam memandang, Islam harus diamalkan secara menyeluruh (kaffah), tidak boleh sepotong-sepotong. Mengamalkan Islam secara sepotong-sepotong, misalnya menerima hukum Islam dalam beribadah shalat dan haji, tapi menolak hukum Islam dalam sistem pemerintahan dan ekonomi, adalah sesuatu yang amat bertolak belakang dengan Islam, yang dapat menimbulkan celaka di dunia dan di akhirat.

      “Apakah kalian akan beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (QS Al Baqarah : 85)

      Mengenai pertanyaan “Kemana aku setelah mati?”, Sekulerisme memang menjawab bahwa nanti manusia akan dibangkitkan lagi pada Hari Kiamat. Jadi, hubungan pembangkitan dan pengumpulan (shilatu al-ba’tsi wa al-nusyur) mereka juga akui adanya.

      Namun bertolak belakang dengan Islam, Sekulerisme tidak mengakui adanya hubungan perhitungan amal (shilatu al-hisab), atau setidak-tidaknya hubungan itu menjadi absurd dan kontradiktif. Sebab hubungan perhitungan amal hanya akan wujud, jika manusia di dunia diharuskan berpegang pada perintah dan larangan-Nya. Oleh karena mereka membuat aturan hidupnya sendiri dan tidak menjalankan agama dalam mengatur kehidupan, bagaimana mungkin mereka diharuskan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan? Bukankah seharusnya mereka mempertanggung jawabkannya terhadap diri sendiri? Pemikiran seperti ini tentu saja sangat naif.

      Ikhtisar jawaban Islam dan sekularisme terhadap al-Uqdatu al-Kubro dari Islam dan Sekulerisme di atas disajikan secara ringkas dalam tabel 1 berikut.
      No Aspek Pertanyaan Islam Sekulerisme
      1. ”Darimana manusia berasal?” -Manusia diciptakan Allah SWT -Mengakui hubungan perintah & larangan (shilatu al-awamir) antara Allah dan manusia -Manusia diciptakan Tuhan (secara formalitas) -Tidak mengakui hubungan perintah & larangan antara Allah dan manusia (kecuali secara parsial dan personal)
      2. “Untuk apa manusia hidup?” -Ibadah kepada Allah SWT (hidup sesuai tuntunan Islam) -Mencari kepuasan jasmani yang sebesar-besarnya (tidak terikat dengan tuntunan agama)
      3. “Kemana manusia setelah mati?” -Kebangkitan pada Hari Kiamat -Mengakui hubungan perhitungan amal (shilatu al-muhasabah) -Kebangkitan pada Hari Kiamat (secara formalitas) -Tidak mengakui hubungan perhitungan amal (shilatu al-muhasabah), atau membuat hubungan itu tidak jelas
      KESIMPULAN SAHIH BATIL

      Tabel 1. Perbandingan Jawaban Islam dan Sekulerisme

      Mana Jawaban Yang Benar?
      Dari kedua versi jawaban di atas, manakah jawaban yang benar? Jawaban yang benar adalah yang bersumber dari sesuatu yang benar. Sesuatu yang benar haruslah bersumber dari yang pasti benar (al-haq). Dialah Allah. Dengan demikian, sumber yang benar adalah wahyu (al-Qur’an). Pemikiran spekulatif nilainya bisa benar bisa salah. Tapi bila telah hadir pemikiran yang pasti benar, maka pemikiran spekulatif pasti salah adanya. Maka, bagi seorang muslim, jawaban yang benar tentu saja adalah yang bersumber dari al-wahyu, yakni Al Qur`an dan As Sunnah. Tapi, bagaimana meyakini bahwa al-Qur`an itu betul-betul merupakan wahyu Allah ? Apa buktinya?
      Secara faktual, al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Maka, secara rasional hanya ada tiga kemungkinan asal Al Qur’an: 1) karangan bangsa Arab; 2) karangan Nabi Muhammad SAW; 3) berasal dari Allah SWT.

      Kemungkinan pertama tidak bisa diterima. Sebab, faktanya bangsa Arab taklah pernah mampu memenuhi tantangan untuk membuat kitab serupa al-Qur’an,

      “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS Al Baqarah : 23).

      Kemungkinan kedua, juga tidak bisa diterima. Mengapa? Ada dua sebab. Pertama, Muhammad SAW termasuk orang Arab. Kalau seluruh orang Arab tidak mampu memenuhi tantangan untuk membuat satu surat pun yang semisal dengan Al Qur’an, apalagi Nabi Muhammad yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) tentu lebih tidak bisa lagi. Andai saja nabi Muhammad bisa membuat al-Qur’an, apalagi orang-orang Arab lain yang lebih pandai dari Nabi Muhammad tentu lebih bisa membuat al-Qu’an. Kedua, gaya bahasa dalam tutur kata beliau sebagaimana yang terekam dalam hadits-hadits qauliyah ternyata berbeda dengan gaya bahasa Al Qur’an. Sekalipun seseorang barangkali bisa berbicara dalam dua gaya bahasa, namun mengeluarkan ungkapan dalam intensitas yang tinggi sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah SAW adalah suatu hal yang mustahil terjadi. Kalau pun toh ada yang berupaya keras melakukannya, kemiripan di antara dua gaya bahasa yang dia ungkapkan akan kerap kali terjadi. Sedangkan gaya bahasa Al Qur’an jelas berbeda dari gaya bahasa hadits. Ini jelas menunjukkan bahwa Al Qur’an bukanlah perkataan (kalaam) Nabi Muhammad SAW sendiri.

      Bahwa Al Qur`an itu bukan buatan Muhammad SAW, juga dibuktikan dengan adanya fakta-fakta ilmiah yang terkandung dalam sebagian ayat-ayat Al Qur`an. Fakta-fakta yang sedemikian canggih dan rumit itu baru terbukti pada masa modern kini, yang menunjukkan Al Qur`an tidak mungkin dikarang oleh Muhammad SAW yang ummi itu. Dengan kata lain, Al Qur`an itu hanya dari sisi Allah saja, bukan dari yang lainnya. Di antara fakta-fakta ilmiah itu antara lain Tentang Atmosfer Bumi dan pergiliran siang dan malam secara cepat.

      “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (QS Al Anbiyaa` : 32)

      Para ilmuwan sekarang menjelaskan kepada kita bahwa “atap yang terpelihara” (saqfan mahfuzhan) dalam ayat di atas adalah lapisan atmosfer, yaitu udara yang berlapis-lapis di atas bumi. Seandainya atmosfer tidak ada, niscaya jutaan meteor yang setiap hari terbakar di angkasa akan jatuh mengenai kita dan membakar segala sesuatu di bumi. Atmosfer telah dijadikan Allah bagaikan atap yang kokoh yang melindungi bumi beserta segenap makhluk hidup di dalamnya.

      Tentang pergiliran siang dan malam secara cepat, Allah berfirman,

      “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS Al A’raaf : 54)

      Maksud ayat di atas, bahwa siang dan malam, masing-masing saling mengikuti secara cepat dengan tidak terputus. Ayat tersebut mengandung suatu isyarat tentang rotasi bumi yang menyebabkan datangnya siang dan malam. Demikian pula firman Allah SWT :

      “Dia menutupkan malam kepada siang dan menutupkan siang kepada malam.” (QS Az Zumar : 5)

      “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.” (QS Faathir : 13)

      “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut garis edarnya.” (QS Al Anbiyaa` : 33)

      Kosmonot Rusia, Yuri Gagarin, ketika terbang ke angkasa mengatakan bahwa dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri pergiliran gelap dan cahaya yang cepat di permukaan bumi karena adanya rotasi bumi.

      Inilah beberapa contoh ayat Al Qur`an yang membuktikan pula bahwa Al Qur`an itu berasal dari dari Allah SWT semata, bukan buatan manusia, termasuk Muhammad SAW. Pada zaman Nabi Muhammad SAW ilmu pengetahuan yang mengungkapkan hakikat ayat-ayat itu tidak dikenal. lmu pengetahuan seperti ini hanya diketahui oleh manusia modern saat ini. Maha benar Allah dengan firman-Nya :

      “Katakanlah,’Al Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia langit dan bumi. Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Furqaan : 6)

      Bila kemungkinan pertama dan kedua tidak terbukti, maka kemungkinan ketiga lah yang pasti benar, yaitu bahwa Al Qur’an itu berasal dari sisi Allah SWT. Al Qur’an adalah ucapan (kalaam) Allah SWT. Patut dicatat di sini bahwa seorang tokoh sastrawan Quraisy yang bernama Walid bin Mughirah pernah mengatakan:

      “Aku adalah orang yang paling tahu tentang sya’ir Arab. Tak ada yang lebih pandai tentang hal itu kecuali aku. Sungguh apa yang dibaca Muhammad itu bukanlah ucapan manusia. Dia itu tinggi, tak ada yang lebih tinggi darinya.” (lihat Taqiyyuddin An Nabhani, As Syakhshiyyah Al Islamiyyah, Juz I/148).

      Adapun jawaban paham Sekulerisme terhadap Al Uqdatul Kubro, adalah jawaban yang amat spekulatif, karena ia berasal dari manusia yang lemah dan terbatas, serta tidak dapat menjangkau pengetahuan di luar batas-batas kemampuan inderawinya. Bahkan merekapun sendiri tak yakin, apakah jawaban itu benar. Bila ada jawaban yang pasti benar (yang bersumber dari al-wahyu), maka jawaban spekulatif ini pasti salah.
      Oleh karena itu, wajib bagi tiap muslim untuk meyakini jawaban tentang al-uqdatu al-kubra yang diberikan oleh Islam karena jawaban ini didasarkan pada al-wahyu yang pasti benar. Allah menjelaskan bahwa tiap muslim wajib mengikuti apa yang telah diturunkan-Nya dan haram mengambil petunjuk selain keduanya.

      “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al A’raaf : 3)

      Penutup
      Jawaban Islam tentang al-uqdatu al-kubra yang bersumber dari wahyu Allah adalah jawaban yang sahih, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.

      “Alif laam miim. Kitab (Al Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 1-2)

      Sementara, sekulerisme memang memberikan jawaban terhadap Al Uqdatul Kubro. Tapi jawaban yang diberikan itu salah, karena berlandaskan pada pemikiran spekulatif.
      Dengan jawaban tuntas yang diberikan Islam tentang tiga pertanyaan mendasar “dari mana manusia berasal?”, “untuk apa manusia hidup?” dan “kemana setelah mati?”, tersingkaplah dengan gamblang hakikat hidup seorang muslim, yakni untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakannya di dunia, agar kelak bisa hidup bahagia kekal abadi di surga. Maka, hidup seorang muslim adalah hidup dengan misi yang agung, hidup yang terarah dan mantap, serta hidup yang bermutu tinggi dengan keyakinan akan kegemilangan hidup hakiki yang abadi di akherat kelak.
      Wallahu a’lam bi al-shawab

    • nh18 10:02 am on April 3, 2008 Permalink | Balas

      Syahbal …
      Wah ini dalem sekali nih …

    • apurwa 4:20 pm on April 4, 2008 Permalink | Balas

      Ikut nimbrung ya…wa maa kholaqtul jinna wal innsya ilaa liya’budun…begitu kata firman Tuhan dalam Kitab Bacaan Yang Mulia (qur’anulkarim)..”Tiada Ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

      Asal manusia dari penciptaan Alloh. Alloh menciptakannya dari tanah, dari air yang hina (mani) dari bapak dan (ovum) dari ibunya, dari air yang memancar dari tulang sulbi mereka ketika terjadi penciptaan yang berulang ulang

      Tujuannya beribadah kepada Alloh. Baik transendental spiritual maupun sosial.

      Manusia merdeka. Boleh memilih jalan yang disukai. Artinya merdeka dengan pilihan sadar, tidak boleh mengelak pada akibat perbuatannya. Contoh klasiknya: Kalau bebas menebang hutan silahkan hadapi resiko banjirnya. Kalau bebas nonjok orang ya jangan menyesal kalau ditonjoki orang lain (he he sarkas)

      Mau ke mana setelah hidup? Hidup aja dulu..terus mau ke mana terserah deh…he he…

    • syahbal 4:25 pm on April 4, 2008 Permalink | Balas

      @semua
      assalamualaikum,wr,wb.
      terima kasih atas jawabannya..

    • Ram-Ram Muhammad 1:07 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas

      1. Dari mana manusia berasal? Dari Tuhan…
      2. Untuk apa manusia hidup? Untuk Tuhan…
      3. Dapatkah manusia berbuat sesuai kehendaknya? Tidak, tanpa kehendak Tuhan…
      4. Mau kemana setelah manusia Hidup? Kembali kepada Tuhan…

      Salam kenal… :D

    • Ibn Abd Muis 1:08 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas

      Tuhan kok dicari??? :roll: Bukankah Tuhan itu dekat?? :roll: ah, nggak mau jawab, takut dituduh berpemikiran wihdatul wujud, as’ariyah, jahmiyah, rafidhah, sufi, khawarij de el el.

      Tapi oke juga, saya juga mau mikir akh…. tapi kalo sudah dapat jawabannya, nggak mau bilang-bilang, biar dikonsumsi sendiri saja…. :oops:

    • syahbal 1:21 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas

      Assalamualaikum,wr,wb.

      @ram-ram muhammad
      teng kyu…
      salam kenal juga…

      @Ibn Abd Muis
      y dong harus dicari…
      Ibrahim aja mencari Allah…
      masa kita ndak…

    • hanan 2:42 pm on April 8, 2008 Permalink | Balas

      Subhanallah itulah pertanyaan yang telah lama menghantuiku he..he
      Alhamdulilah sekarang ku telah menemukannya,yang akhirnya merubah jalan hidupku 180 derajat.koq jd curhat nih,yg jelas manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah (terikat dengan hukum Allah dalam seluruh Aspek kehidupannya sebagai konsekuensi dari keimanannya untuk nanti dimintai pertanggungjawaban oleh Allah yang nantinya menentukan nasib kita masuk surga ato neraka.kalo belum jelas juga carilah jawabannya sehingga antum akan mampu menjadi manusia sesuai dengan tujuan antum diciptakan.jazklh

    • daeng fattah 3:44 pm on April 8, 2008 Permalink | Balas

      Sebagian besar Manusia cenderung:
      1. Kebingungan pada istilah2 sederhana
      2. Mendukung argumen dengan hal2 ambigu
      3. Bernalar siklis hingga keimanan selalu menang
      Bayangkan kasus berikut:
      Seorang teman adalah pecandu narkoba, bertobat pada allah, dan kini tinggal secara tenang dan damai.
      Apakah bebas dari kecanduan narkoba menunjukkan kebenaran doktrin agamanya? Ada kasus yang sama untuk orang hindu. Dan atheist juga dapat sembuh tanpa berdoa.
      Fakta2 ini mengosongkan pengaruh Agama dalam data.

    • syahbal 11:19 am on April 9, 2008 Permalink | Balas

      @hanan
      terima kasih.. gpp curhat aja..

      @daengfattah
      terima kasih..
      y salah satunya sayah yg ada dlm kecenderungan ituh..
      yup.. betul.. kisah itu dpt membenarkan doktrin suatu ajaran.. dan layak dicoba.. ntah dgn atheis.. yg berdasar pada diri masing2..

    • mata 9:30 pm on April 30, 2008 Permalink | Balas

      pada awalnya peribadatan itu hanya kepada Alloh saja (krn makhluk itu ciptaan Alloh) , setelah itu ada makhluk yg durhaka kpd Alloh swt,na’udzubillah min dzalik(3x) , selanjutnya muncul pribadatan kepada selain Alloh , hingga muncul/ada makhluk yg menentang Alloh , hingga mengingkari Alloh swt,maka-nya makhluk tersebut musuh Alloh swt , wallohu a’lam bish-showab.

    • mata 9:36 pm on April 30, 2008 Permalink | Balas

      punya ana tadi dari ikhwan , ana edit dikit.

    • mata 7:45 pm on Mei 1, 2008 Permalink | Balas

      tidak usah bingung2 , dlm menjalani hidup kita ini tinggal mencontoh saja , mencontoh salafush-sholih(apa aja yg dari mreka(termasuk tidak boleh ngapain aja)) , krn mreka sudah dijamin Alloh keslamatannya(pasti selamat) , krn tujuan hidup kita ini tdk main2, hanya utk beribadah kpd Alloh saja , menggapai dunia hanya utk menggapai akherat , wallohu a’lam bish-showab.

  • syahbal 6:54 pm on March 23, 2008 Permalink | Balas
    Tags: abdul rahman saleh, adnan buyung nasution, dihina, hati, , , kebangsaan, nasionalisme, singapura,   

    Dihina (again!!!) 

    Assalamualaikum,wr,wb.

    Wow!!! ajaib sekali negeri ini, negeri yang selalu dihina. mungkin sudah waktunya masuk ke buku rekor dunia. sebagai negara yang palin sabar dihina. walaupun sbar itu adalah sebagian dari iman, tapi jangan lah sampe kebablasan seperti itu. dihina ama negeri tetangga terima ajah. gerak dong, gerak.

    Tidak seperti Muhammad SAW, ketika salah saatu utusannya dihina oleh suatu negara besar. Maka tanpa segan Rasulullah SAW mengirim pasukannya untuk memerangi negara besar tersebut. Supaya negeri itu tidak macem-macem lagi. Padahal saat itu Rasulullah baru punya beberapa ribu pengikut (rakyat).

    Lha…ini Indonesia Pancasila yang memiliki rakyat pengikut 220 juta lebih mau aja dihina ama negara yang secuil rakyatnya

    …ck..ck..ck..

    Dimana nyalimu bung???
    Mana Dadamu??? Itu kata Soekarno…
    Mana Hatimu??? Itu kata saia…
    Dimana nasionalismu ituh???
    Nasionalisme yang telah berhasil menghapuskan menghancurkan kedigdayaan ISLAM…
    Mana sikap kebangsaanmu itu???
    Yang telah berhasil mengkotak-kotakan umat ISLAM…
    Apa masih ada???
    Mana???
    Mana???
    Saia turut berduka…
    Karena hati kalian sudah mati…
    Mati…
    Mau aja dihina ama negara yang kalau diserang langsung abis…tak bersisa…

    Wassalamualaikum,wr,wb.

     
    • Admin 8:04 am on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Puisinya nggak bakalan lama lagi kok selesai.

    • syiena 8:51 am on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Lam kenal Bos…
      he he he, klo mo menilik sejarah bukanya dari dulu negeri ini selalu dihina (kekekeke..) dan selalu menikmatinya..apa mungkin terlalu malu untuk membalas??? dengan sebuah prinsip NRIMO ING PANDUM??? Ya benar prinsip jawa yang menyesatkan kalo dipakai asal asalan.
      Sudah terlalu lama kita nrima saja.. mari kita bangkit melawan ketidak adilan.. sebab siapa saja yang percaya pada Tuhan, Yakinlah Tuhan Tidak akan Memperbaiki nasib Kita KAlo Kita Tidak Memperbaiki sendiri..

      Bangki!!! Lawan!!!

      Merdeka!!

    • syahbal 9:01 am on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      @syiena
      assalamualaikum,wr,wb.
      salam knal jg..
      oh ya.. malu jg sebagian dr iman..
      memang negara ini negara yg beriman..tp iman kesiapa y?
      ywda slamad berjuang aja deh..

    • norie 6:59 pm on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      hi.
      Kalau saya melihat di negeri ini orang hanya berfokus pada mengajak pada kebaikan saja. Sedangkan aspek mencegah pada kemunkaran hampir tidak tersentuh.
      Saya jadi ingat bahwa segelintir orang menglabel ekstremis (fundamentalis) pada orang-orang yang dengan tangan mereka mencegah kemungkaran.
      Saya juga mikir, kenapa saya hanya berani pada tataran hati dan perkataan saja, sedang tidak berani dengan tangan?? Entah, mungkin merasa hanya sendirian.

    • syahbal 7:32 pm on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      @norie

      assalamualaikum…

      ya..negeri ini butuh sentuhan tangan seorang pemimpin yang tegas (diktator)…
      tegas dalam hal apa???
      tegas dalam mencegah kemungkaran…
      tegas dalam memerintah pada kebaikan…

      banyak oranh yang hanya bisa berbicara…termasuk saia…

      dan kalaupun mereka melihat ada yang bertindak maka mereka berteriak anarkis, bar-bar..
      padhal mereka tidak anarkis…
      meraka punya suatu aturan yang kita dengan sombong menentangnya…

      semoga Allah meridhoi negeri ini…

    • Um Ibrahim 11:45 pm on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Ammiiin,

      mungkin Indonesia belom punya waktu, soalnya dalam negri aja masih acak2-an makanya yg diluar negri gak sempet dihiraukan :(

    • Luthfi 2:32 am on Maret 25, 2008 Permalink | Balas

      Pemerintah kita masih terlalu sibuk ngurusin urusan perut. Jadi ga “ngeh” kalo masalah yg luar-luar.
      Tapi, sepengetahuanku, dimana-mana itu susyehnya jadi orang dari negara terbelakang ya selalu diremehkan. Nasib.. nasib…

    • DensS cessario 6:39 pm on Maret 25, 2008 Permalink | Balas

      hah? dihina tapi koq masih gak kerasa yah… sudah tau ‘Travel Warning: Indonesia, Dangerously Beautiful’ …

    • Sawali Tuhusetya 7:53 pm on Maret 25, 2008 Permalink | Balas

      wew… beberapa waktu yang lalu malingsia, sekarang giliran singapura. jangan2 nanti akan segera muncul negeri2 jiran yang lain yang sengaja menimpakan stigma ke wajah bangsa kita! Lawan! semangath!

    • norie 2:22 pm on Maret 26, 2008 Permalink | Balas

      assalamualaikum…
      Eh.. Mas, saya ga jadi mengadu. Saya rasa saya tahu kenapa komen saya tidak tertampilkan. Mungkin karena dalam komen itu saya terlalu banyak memberi link. Mohon maaf nih Mas, saya jadi merepotkan.
      satu lagi kalo bisa komen yang di atas itu dihapus saja.
      Makasih ya.. :)

    • RETORIKA 11:08 pm on Maret 26, 2008 Permalink | Balas

      Kemandirian ekonomi, kesetabilan politik, strong government itu kuncinya. Sayangnya itu hanya terjadi pada zaman Soekarno-Soeharto, kini tidak. Paling kerasa perbedaanya kalo kita tinggal di luar negri.

    • DensS cessario 9:51 pm on Maret 28, 2008 Permalink | Balas

      Dimana nyalimu bung???

      Oh itu, ketinggalan di lemari buku di rumah :mrgreen:

      Mau aja dihina ama negara yang kalau diserang langsung abis…tak bersisa…

      Sirik tanda tak mampu, haha mereka hanya sirik ^^ :D

    • achoey sang khilaf 9:25 am on Maret 30, 2008 Permalink | Balas

      Kelemahan Indonesia
      APakah karena pemimpinnya yang lemah?
      Atau karena rakyatn yang lemah?
      Apakah diri kita termasuk bagian dari orang2 yang lemah?
      Bangkitlah!

    • Santri Gundhul 3:14 pm on Maret 30, 2008 Permalink | Balas

      Ngasah Pedang…cari Bambu…
      Jualan BAMBU RUNCING…parkir di pinggir jalan….siapa tahu laku.

      Ganyaaaaang…..Gempuuuuuurrrrr….eh Kang Gempur ada gak yah…

    • RETORIKA 9:24 pm on April 10, 2008 Permalink | Balas

      “”Nasionalisme yang telah berhasil menghapuskan menghancurkan kedigdayaan ISLAM…”"

      pengen tau, paspornya warga negara mana sih ? kalo ternyata WNI dan nggak punya rasa NAsionalisme mending angkat kaki dari negara ini, dari pada jadi benalu (ngambil untung tetapi nggak cinta tanah air) halah …

    • syahbal 10:02 pm on April 10, 2008 Permalink | Balas

      paspor?!?
      hemm..
      warga negara international saya mah..
      esmosi mas..
      kebanyakan makan daging kambing yah?
      hehei..
      kan saya nanya mana nasionalisme yg berhasil menghancurkan kedigdayaan islam..
      koq malah esmosi..
      bukannya bangga..
      ck..ck..

  • syahbal 5:21 pm on March 23, 2008 Permalink | Balas
    Tags: berubah, , dunia, dzikir, , kenapa, , sesat, , siksa,   

    Aku Berubah…Aku Sesat… 

    Assalamualaikum,wr,wb.

    tulisan ini mungkin kurang baik untuk diposting…karena bersifat penyesalan terhadap diri sendiri…ya tapi dari pada gag ada postingan lagi… (More …)

     
    • daengfattah 5:57 pm on Maret 23, 2008 Permalink | Balas

      Engkau sedang menanjak dalam eksplorasi pikiran terhadap eksistensi. Selamat datang di dunia para pemikir. Tetap jaga sikap kritis anda :)

    • syahbal 6:01 pm on Maret 23, 2008 Permalink | Balas

      @daengfattah

      tenk kyu…

      salam kenal ya mas…

      mas blogmu apah…saia bingung…pingin berkunjung…

    • waskita 7:07 am on April 10, 2008 Permalink | Balas

      Manusia memang terpengaruh suasana/lingkungan, mungkin suasana lama memudahkan untuk beribadah, suasana baru menyulitkan shalat. Bagaimanapun juga itu semua adalah ujian, untuk introspeksi kepada kita apakah memang iman kita itu kuat. Sedikit tips dari saya: http://www.ee.itb.ac.id/~waskita/tips-menjaga-sahnya-ibadah-shalat

    • nurma 5:24 pm on April 11, 2008 Permalink | Balas

      itulah manusia :) karna kita bukan malaikat
      (aq dlu malah sempet ‘iri’ ma malaikat loh,he..)
      lingkungan mungkin pengaruh juga, tp yakinkah anda jk lingkungan kita shalih lantas ibadah kita juga akan baik?
      belum tentu kan? pasti akan dtg “ujian” pd sisi hidup kita yg lain.
      In the end, its always between U & God kok.
      :) semangat!

    • danalingga 8:15 pm on April 17, 2008 Permalink | Balas

      Mungkin karena kebanyakan ngeblog bal. Coba istirahat dulu .

  • syahbal 10:20 pm on March 17, 2008 Permalink | Balas
    Tags: AAC, ayat, ayat ayat cinta, , film, film kritik, , kritik,   

    Konyolnya AAC 

    KEKONYOLAN AYAT-AYAT CINTA
    Assalamualaikum, wr,wb.

    Mungkin tema dari tulisan ini sudah cukup basi. karena memang film ayat-ayat cinta sudah sangat lama sekali, dan sudah banyak orang yang mempostingkannya. tapi semua yang akan saya tulis disini baru saya dapatkan informasinya kemarin ini. dari saudara saya. (More …)

     
    • Deasy 10:01 am on Maret 18, 2008 Permalink | Balas

      setuju dengan point pertama. waktu baca novelnya..yang terbersit di pikiranku dalam membaca karakter maupun penampilan aisha adalah gadis yang kalem dan dengan pakaian muslim berjubah panjang dan jilbab yang dijulurkan hampir menutupi setengah badan dan cadarnya benar-benar menutupi muka termasuk dahi tentunya, jadi yang keliatan matanya saja. Tapi yang di film justru lainnn banget. Penampilan aisha disitu bukan mncerminkan gadis alim seperti yang digambarkan karakter dalam novelnya. Mode baju maupun kerudungnya masih tetap mengedepankan kemodisan zaman sekarang,,, tidak bisa dijadikan contoh …ini mungkin banyak jadi alasan knp film itu masih tetap jadi perdebatan..

    • jablay8990 1:46 pm on Maret 18, 2008 Permalink | Balas

      waaaahhh….jujur aja saya nih termasuk penggila film.Tapi untuk film indonesia cuma ada beberapa aja yang nge-pas di hati saya.Untuk film ayat2 cinta ini saya belum nonton dan mungkin ga mau nonton. Why? dari dulu sampe sekarang film di Indonesia yang bertemakan cinta, ya….Begitu-begitu aja. Ga ada yang menarik.

    • trijokobs 1:48 pm on Maret 18, 2008 Permalink | Balas

      untung belum pernah baca novelnya..
      belum pernah juga nonton pilemnya..
      setelah baca ini..
      tambah gak mau nonton.

      terima kasih sudah membantu berhemat.

    • Cabe Rawit 7:16 pm on Maret 18, 2008 Permalink | Balas

      Setuju…!!! :mrgreen:
      Maksudnya mungkin “penyesuaian” dengan iklim budaya kita… tapfi kok malah jadi keliatan “tak sesuai”.. :shock:
      Tafi, jujur saja, ane gak nonton pelemnya… :mrgreen:

    • amaduq01 10:11 pm on Maret 18, 2008 Permalink | Balas

      Wah pengetahuan baru nih….
      tak ambil ya artikel ente

    • Three Musketeers 9:14 pm on Maret 19, 2008 Permalink | Balas

      Thanks atas informasi yang menarik. Jujur saja saya pencinta film dan enggak pernah membeda-bedakan film yang saya tonton, entah dari Hollywood, Bollywood, Iran, atau Indonesia. Saya menikmati film sebagai sebuah karya seni an sich yang dalam satu dan lain hal berbeda dengan realitas kehidupan. Jadi, dengan informasi ini, justru saya tambah ingin menonton film AAC yang asli, bukan bajakan. Ingin membuktikannya. Selain itu, sudah saatnya kita menghormati karya bangsa sendiri; ya gak? Thanks sekali lagi ya.

    • syahbal 9:59 pm on Maret 19, 2008 Permalink | Balas

      @semua
      terima kasih atas komen nya..
      y saia hanya menjadi seorang penonton yg baik..
      penonton yg baik pasti memberikan suatu kritik yg baik jg kan.. film ini tuh bagus.. cuman ada yg g sesuai saja..

    • daengfattah 6:26 pm on Maret 20, 2008 Permalink | Balas

      Wahahaha. Salam kenal. Informasi yang sangat membantu sahabat. Sekarang saya tahu kenapa cewek gue gak mau nonton itu. Hihihihi

    • DensS cessario 8:24 am on Maret 21, 2008 Permalink | Balas

      hah? gw belum juga nonton, tapi sudah punya feeling bahwa film ini aneh…. he he he

    • poche 11:44 am on Maret 21, 2008 Permalink | Balas

      sekedar infromasi…..
      AISHA itu berkumis lho….. XD makanya dia pake cadar yang model begitu… kalo pake yang model lain, bisa2 brewoknya keliatan MENJUNTAI….

    • DensS cessario 1:39 pm on Maret 21, 2008 Permalink | Balas

      oi, dipikir2 ini berlebihan..

      Aisya itu adalah Istri Nabi Muhammad yang paling taat, pintar, baik.

      Tetapi dipikir3 3x,

      Aisya kan hanya sekedar nama?… hmm…. au ah gelap xixixi…

    • arifrahmat 4:22 am on Maret 22, 2008 Permalink | Balas

      Sebagai nilai positif, dari film tersebut semoga semakin banyak yang tertarik untuk membaca novel aslinya kemudian mendapatkan hidayah berupa pencerahan ruhiyah, penyadaran pemikiran serta penambahan keimanan kepada Allah SWT.

      Adapun bagi yang telah membaca novel Ayat-Ayat Cinta dan belum menyaksikan filmnya sebaiknya untuk tidak menontonnya, karena apa yang disajikan di dalam film Ayat-Ayat Cinta tidaklah lebih baik daripada apa yang tercantum di dalam novel aslinya.

      http://www.binamuslim.com

    • beatles4ever 1:56 pm on Maret 22, 2008 Permalink | Balas

      jaahahahahahhahahah

      untung gw nntonnya di kompi g ke bioskop

    • aphank 9:22 pm on Maret 22, 2008 Permalink | Balas

      Sebuah film adalah karya seni…
      begitupun dengan novelnya…
      so hargai karya seni orang…
      belum tentu apa yg bia mereka buat anda dapat melakukannya….
      ngaca’ dong…

    • syahbal 9:44 pm on Maret 22, 2008 Permalink | Balas

      @aphank
      assalamualaikum,wr,wb.
      terima kasih mas sudah mengkritik saia..
      y film itu karya seni..
      novel jg..
      tp taw g klw kritik itu dpt memperbaiki nilai2 dlm suatu karya seni..
      y saia sudah ngaca..
      karena ngaca ituh saia mengkritik film inih..
      dan saia menghargai film inih..
      bahkan saia terpesona dgn jalan ceritanya..terutama di novelnya..
      skali lgy saia ucapkan trimakasih..

    • syahbal 9:46 pm on Maret 22, 2008 Permalink | Balas

      @aphank
      mungkin anda yg g bisa menghargai orng..
      maen nulis coment tanpa salam..ck..ck..ck..

    • Santri Gundhul 12:09 am on Maret 23, 2008 Permalink | Balas

      Waaaathaaauuuwww….
      Bagus-bagus…kritikan yang membangun neh…

      Cuman, he..he…
      Peran dan pakaian yg dikenakan oleh para PEMAIN, so PASTI gak bakalan akan bisa sama PERCIS. Lah kan orang-orangnya saja dah beda kok…??.
      Repot nanti klu harus mencari permain yg MIRIP dengan ASLINYA. Apa yah ada…?? Misalnya neh…Loh Aisha dulu tangannya kan ada BOROKNYA, kok sekarang gak ada..?? Aisha dulu di mukanya kan ada TOMPELNYA, kok sekarang gak ada..??. Halah…halah…kenapa yg DIRIBUTIN ( dikritik ) kok masalah urusan FISIK, MATERI dan tampilan LUAR yah…??.

      Lagi-lagi, sampeyan dah TERJEBAK dengan TAMPILAN FISIK dan MATERI sehingga gak mampu melihat, mencerna ISINYA. Padhal film tersebut kan mestinya kita tonton untuk MEMAHAMI ISI dan KANDUNGAN serta PESAN-PESAN apa yang mau disampaikan kepada penonton…?? Mestinya itu yg menjadi PRIORITAS.

      Yah…yah…wong namanya saja Film..untuk hiburan kok.
      Anda suka tinggal TONTON. Jika gak suka tinggal MOLOR…keeer…keeeer…zzz…zzz.

      Oiiiihhh…Aisha CANTIK banget yah….( dalam mimpi ) he..he…

    • syahbal 11:02 am on Maret 23, 2008 Permalink | Balas

      @santri gundhul..
      ya..ya..ya..
      isinya mah suwdah cukup bagus.. apalgy di novelnya.. bikin menitikan air mata.. pas nonton koq g yah?
      isinya jg dikritik.. tuh tntang ahlul dzimah..hehei..
      tank kyu..

    • Luthfi Izmi Lubis 3:19 am on Maret 24, 2008 Permalink | Balas

      Kalo menurutku AAC udah baguslah. Emang si gak bakal bisa menyenangkan semua pemirsanya. Tapi ya, minimal, sudah lumayanlah.. Menurutku loh..

    • Hamba ALLAH 10:17 am on Maret 29, 2008 Permalink | Balas

      Saya sudah baca novelnya, benar2 suatu karya seni yg luar biasa! Belum pernah saya baca novel sebagus ini… Tapi setelah saya liat filmnya saya kecewa banget, krn hampir 80% beda sama novelnya. Banyak nilai2 Islam yg ditinggalkan di filmnya. Di film, terlalu fokus kpd hubungan percintaanya. Padahal yg saya baca di novelnya, ceritanya banyak menyangkut tentang bagaimana tokoh Fahri menjalani kehidupan sehari2nya dgn menerapkan prinsip2 Islami.

    • amaduq01 10:28 pm on Maret 30, 2008 Permalink | Balas

    • Hani 3:03 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas

      Assalamualaikum wr. wb..

      Terus terang aku baru aja ‘ngeh’ kalau ada film Indo yang namanya Ayat-Ayat Cinta, jangan ditanya udah nonton atau belum. Makanya telat banget ngasih commentnya… sorry for this.

      Anyway, aku tinggal di Abu Dhabi dan untuk point no 1 & 2, sebenernya tergantung Arab-nya Arab yang mana. Di UAE (=Emirat Arab) fungsi cadar dan henna/mehndi (pacar hiasan tangan) sudah lebih untuk fashion, bukan lagi semata2 untuk mereka2 yang menikah/menunjukkan kelompok tertentu. Bisa dibaca disini:

      http://www.mehendiworld.com/whatismehendi.htm

      Hampir 80% penduduk UAE adalah warga negara asing (non UAE national maksudnya – bukan semata2 bule) dan tidak aneh lagi kalau mereka2 ini – menikah atau tidak – menggunakan henna di tangan.

      Entah kalau di Mesir.

      Di satu sisi aku setuju kalau pembuat film harus lebih jeli melihat hal2 seperti ini, karena tidak semua WNI pernah mengunjungi negara2 Arab dan film adalah satu2nya media yang memperkenalkan dan memperlihatkan bagaimana keadaan di Arab. Kalau yang diperlihatkan tidak sesuai, bisa menimbulkan fitnah juga nantinya… bahaya kan?

      Selain itu, saya baca komentar2 di website2 yang lain bahkan ada yang menyebutkan seperti ini: it shows the reality of a Middle Eastern brutal and corrupt legal/prison system. Wohohooo… ati2 loh! Jangan menyamaratakan negara2 Middle East … karena kebanyakan negara2 Middle East adalah negara2 kaya dan mereka sudah sangat menyadari pentingnya sistem negara yang baik untuk memajukan negaranya. Contoh, lihat saja websitenya Abu Dhabi police, dan bagaimana mereka mentata hukum berlalu lintas:

      http://www.adpolice.gov.ae/en/Default.aspx

      Sekali lagi, entah kalau di Mesir.

      Mungkin, sebelum memberi dan menerima komentar2 mentah2, pelajari dulu fakta2nya (Googling guys.. googling!). Hati2 juga, jangan menyamaratakan dengan mengatasnamakan negara2 middle east/negara Arab. Bisa2 Indonesia di serang sama negara2 GCC loh! hehehe… joke!

    • syahbal 5:41 pm on April 5, 2008 Permalink | Balas

      @hani
      waalaikumsalam,wr,wb.
      terimakasih telah memberikan informasi tambahan.
      y seh UAE mah udah kaya europe kale..
      nah mesir.. jauh..budayanya kuat..

    • Muhammad Rachmat 10:58 am on April 6, 2008 Permalink | Balas

      seandainya saya jadi pemeran utama dalama ayat-ayat cinta

    • titov 1:41 am on April 8, 2008 Permalink | Balas

      analisis yg bagus, saya kebetulan juga agak kurang sreg dengan gaya bercadar aisha ala rianti, soale kok agak jauh dari kesan alim seperti di novel, disini malah lebih tergambar kesan mewah dan modisnya. salah satunya ya juga dari pacar yg menghiyasi tangan aisha, meski sedang nggak akan menikah.

      tapi meski begitu, saya tetep salut dengan adanya pelem ini, yg yaaah… dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah memberikan secercah harapan bagi duniya perpeleman Indonesia yang lebih baik dan dewasa. next, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi dlsbg… tentu saja itu lebih baik dibandingkan apabila biyoskop dipenuhi pelem macam Buruwan Cipok Gw, Setan Kuburan, Ranjang Berderak, dlsbg :lol:

    • Ronny Scholarship 8:53 am on April 9, 2008 Permalink | Balas

      Yah terserahlah orang ngomong apa aja.
      Boleh setuju boleh tidak setuju.
      Blog adalah tempat paling demokratis untuk mengaspirasikan pikirannya.
      Yang penting ikhlas… bukan karena ingin dipuji! hehehe
      Eh…
      Karena pengin dipuji juga gpp. ngomongo sak enak udelmu dewe. wong blog-blogmu dewe… hehehe…

      http://scholarships.warnetnews.com/

    • Fahad 2:21 pm on April 27, 2008 Permalink | Balas

      Ass.Wr. Wb.

      1. pilm = novel?

      novel : cuman tulisan [kita ndiri yang mbayangin] intinya tiap yg baca bayangannya beda2.

      pilm : di buat sebagus mungkin, di pilih seganteng mungkin, dipilih secantik mungkin, di buat sekeren mungkin, di buat supaya yang nonton kagum. gak boleh ada yg keliatan jelek..

      so.. apa yang perlu di ributin. nganggur banget ngeributin pilem ini. AAC bagus Banget. DAKWAH-nya maksudnya. ceritanya biasa2 aja, gak ada yg baru, dan juga gak bagus2 amat. begitu aja. namanya juga kisah cintah. yang bikin ini novel laris ya ini CRITA TENTANG ISLAM, DAKWAH. dan jarang banget di kemas dalam alur yang bagus. makanyo laris.

      wassalam

    • abu farah 2:45 pm on Mei 17, 2008 Permalink | Balas

      Assalamuallaikum wr. wb.

      Saya sekarang tinggal di Oman ( salah satu negara di timur tengah ).
      Masalah pakaian yang dipakai Aishah dalam film AAC di negara arab biasa di sebut ABAYA , dan tiap-tiap negara arab punya model sendiri-sendiri, tapi intinya adalah baju yang tertutup dan warnanya hitam. Modelnya juga macam-macam , ada yang tertutup semua ada juga yang sebagai rangkapan tergantung di negara mana .
      Masalah cadar , jilbab itu juga macam-macam ada yang tertutup semua seluruh kepala , ada yang jilbab seperti di indonesia dan di tambah cadar seperti yang di pakai Aishah , bahkan di Oman ada yang pakai jilbab sengaja di buka sedikit biar rambut atas nya kelihatan dari luar.

      Jadi jangan memandang film ini seperti yang bibi anda katakan .
      Bibi anda hanya tinggal di saudi atau pernah keliling negara2 arab , sehingga memvonis itu pakaian wanita penggoda.
      Saya juga pernah ke Saudi , jadi saya bisa komentar masalah ini.

      Masalah hiasan di tangan , kalau di Indonesia disebut pacar , di Oman di sebut henna.
      Wanita di sini biasanya menghias tangganya kalau ada peristiwa nikah , atau lebaran , di luar acara itu juga boleh menggunakan pacar atau henna .

      Jangan dikira di negara arab semua muslim , di negara arab banyak juga yang non muslim entah itu bekerja atau hnya sekedar berlibur seperti ke Dubai.
      Dan mereka semua di lindungi oleh negara setempat .

      Jangan mentang2 bibi anda datang dari Arab Saudi terus bisa menilai apa saja.

      Negara arab bukan hanya Saudi , masih ada negara-negara lain di sekitarnya.

      Maaf kalau komentar saya salah .

      Wassalam

    • ummu ja'far 7:31 pm on November 24, 2008 Permalink | Balas

      sebenarnya novel AAC mengandung banyak hikmah, terutama tentang perjuangan hidup seorang pemuda Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Mesir. tapi, film-nya lebih menonjolkan adegan cinta yang sentimentil, vulgar, dan berlebihan. adapun mengenai pakaian yang digunakan aisha (istri fahri), memang tidak sesuai dengan apa yang sebelumnya saya bayangkan setelah membaca novelnya. meskipun demikian, setidaknya melalui film itu -salah satunya- membuat citra cadar di nata masyarakat tidak se-ektrim dulu.

    • akbar 8:26 pm on Desember 5, 2009 Permalink | Balas

      yah saya rasa memang peran aisha di situ kurang menjiwai tapi menurut atlas yang saya lihat pakaian yg di pakai aisha itu adalah pakaian ada t mesir…..

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal